Takut Bikin Rupiah Anjlok Lagi, Dirkeu Pertamina Tutup Mulut
Rabu, 31 Agu 2005 13:14 WIB
Jakarta - Direktur Keuangan Pertamina Alfred Rohimune memilih bungkam saat ditanya kebutuhan dolar untuk impor BBM. "Kalau kita ngomong, besok dolar bisa Rp 12.000. Itu bahaya," tegas Alfred.Ia menyampaikan hal tersebut sebelum rapat soal neraca awal Pertamina dengan Panitia Anggaran DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (31/8/2005).Alfred terus mengelak saat didesak oleh wartawan. "Jangan, tanya lainnya, saya tidak berani ngomong, negara lagi prihatin. Pak Presiden lagi pusing, kita nggak berani nambah-nambah," ujar dia.Ditegaskan Alfred, pihaknya berharap rupiah bisa kembali ke level ke Rp 8.900 per dolar AS. Yang pasti, tambah Alfred, impor BBM Pertamina sudah beres sehingga pasokan terjamin. "Pokoknya tenang saja. Kita jangan komentar negatif. Nanti pasar bisa rusak. Jangan memperkeruh suasana," pinta Alfred. Pertamina saat ini merupakan BUMN yang menyedot dolar paling besar. Sehingga, setiap kali rupiah melemah, Pertamina kerap kali dituding sebagai biang keladinya. Dalam perhitungan pengamat valas Farial Anwar, dengan harga minyak US$ 50per barel, Pertamina butuh dolar hingga US$ 1,2 miliar. Dan saat harga minyak mencapai US$ 70 per barel, Pertamina butuh US$ 1,5 miliar.
(qom/)











































