Revrisond: Ada Operator Asing di Balik Melemahnya Rupiah
Kamis, 01 Sep 2005 14:13 WIB
Yogyakarta - Operator asing ditengarai ikut bermain melalui berbagai jaringan internasional dan multinasional sehingga menyebabkan jatuhnya nilai tukar rupiah. "Oleh karena itu langkah-langkah yang harus diambil pemerintah adalah mengungkap secara jelas akan adanya tekanan jaringan internasional dan multinasional, siapa yang ikut bemain," ujar Pengamat ekonomi UGM Revrisond Baswier kepada detikcom melalui telpon, Kamis (1/9/2005). Berkaitan dengan paket kebijakan ekonomi yang diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Revrisond menilai tidak ada hal baru yang ditawarkan pemerintah. "Bagi saya tidak ada yang baru, kebijakan yang dikeluarkan oleh SBY itu sebagai sesuatu yang sudah bisa diduga sebelumnya dan itu tidak ada yang baru sama sekali," tegas Revrisond yang akrab dipanggil Sonny ini.Menurut Sonny, melemahnya rupiah menunjukkan sangat lemah dan tak berdayanya pemerintah dalam menghadapi kekuatan asing, terutama posisi tim ekonomi."Sebab bila dituruti kemauan mereka, maka rakyatlah yang akan semakin tertekan. Mereka itu mulai bermain setelah ada liberalisasi migas dan setelah ini bisa merembet ke yang lain, misalnya air dan sebagainya," katanya.Sonny menegaskan pemerintahan SBY tidak bisa begitu saja melayani tekanan kekuatan asing. Menurutnya, pemerintah harus memperhitungkan ketahanan ekonomi nasional. Semestinya, lanjut Sonny, pemerintah meningkatkan posisi tawarnya dalam percaturan perekonomian dunia. Sebab bila tidak, Indonesia selamanya akan menjadi bulan-bulanan kekuatan asing yang banyak bermain di Indonesia."Kekuatan asing melalui berbagai jaringan internasional dan multinasional itu akan terus menekan," kata staf pengajar Fakultas Ekonomi UGM ini.
(qom/)











































