RI Kembali Terbitkan Obligasi Internasional Tahun 2005

RI Kembali Terbitkan Obligasi Internasional Tahun 2005

- detikFinance
Senin, 12 Sep 2005 11:21 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia akan kembali menerbitkan obligasi internasional atau global bond pada tahun 2005 ini. Selain untuk menutup defisit anggaran, penerbitan obligasi ini juga dimaksudkan untuk menguatkan nilai tukar rupiah.Demikian Dirjen Perbendaharaan Depkeu Mulia P. Nasution sebelum mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/9/2005)."Itu kan sekaligus untuk memperkuat rupiah. Kalau bisa tahun ini juga. Tapi dilihat perkembangannya lagi," ujar Mulia.Pemerintah Indonesia untuk pertama kalinya menerbitkan internasional pada tahun 2004. Selanjutnya pada tahun 2005, pemerintah sempat menunda penerbitan obligasi internasional pada Maret lalu.Pemerintah terpaksa menunda penerbitan obligasi internasional tersebut menyusul lesunya pasar obligasi internasional setelah ambruknya harga obligasi sejumlah perusahaaan AS. Selain itu kenaikan suku bunga AS pada awal tahun ini sempat membuat pasar obligasi rontok.Namun akhirnya pada 14 April lalu, obligasi internasional senilai US$ 1 miliar jadi diterbitkan. Obligasi tersebut memiliki imbal hasil (yield) 7,375 persen dengan kupon 7,250 persen. Spread obligasi ini sebesar 302 basis poin di atas US treasury berjangka waktu 10 tahun.Sebelumnya Mulia mengatakan, 6 lembaga mengikuti beauty contest untuk menjadi penasihat dalam penerbitan obligasi internasional tersebut. Lembaga keuangan tersebut antara lain Citigroup dan Merryl Lynch.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya menyatakan, defisit APBN tahun 2005 yang diperkirakan mencapai Rp 48,3 triliun akan diupayakan dari 3 sumber. Pertama, menerbitkan surat utang termasuk obligasi internasional. Kedua, privatisasi BUMN dai divestasi PT PPA. Ketiga, pencairan pinjaman luar negeri baik bilateral maupun multilateral. Terkait pencairan pinjaman, Mulia mengatakan bahwa Indonesia akan segera mendapatkan kucuran dana dari Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar 250 juta. Dana itu diharapkan bisa cair awal Oktober. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads