Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 29 Jan 2019 13:49 WIB

Bisa Tekuk Dolar AS, Rupiah Masih Rentan Serangan Balik

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Nasib nilai tukar rupiah tahun ini dipercaya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun otot-otot yang menopang rupiah dinilai belum begitu kuat.

Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonom Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat memprediksi tahun dolar AS bisa berada di kisaran Rp 14.000-Rp 14.800. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari proyeksi APBN 2019 sebesar Rp 15.000.

"Itu karena kami punya asumsi dolar AS akan melemah 2%" ujarnya di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Menurutnya penguatan rupiah tahun ini tidak membutuhkan usaha lebih. Dia mengibaratkan menyelamatkan rupiah tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

Dia menerangkan pelemahan dolar AS akan lebih disebabkan perekonomian AS yang akan melemah tahun ini setelah sebelumnya menguat. Salah satu penyebabnya adalah tutupnya pemerintahan AS lantaran keinginan Presiden AS Donald Trump untuk membuat tembok pembatas dengan Meksiko.


"Akibat shutdown cost-nya sekitar US$ 11 miliar. Lebih besar dibanding biaya yang membangun tembok yang diajukan Trump US$ 5,7 miliar. Kita lihat indikasi ekonomi AS itu slowing sekali, apalagi dampak negatif dari shutdown. Ada tekanan dana keluar," terangnya.

Selain itu Bank Sentral AS, The Fed tahun lalu juga sudah begitu masif menaikkan suku bunga acuan. Menurut Budi era tingginya suku bunga akan berdampak pada pelemahan daya beli yang akhirnya melemahkan pertumbuhan ekonomi di AS.

Kondisi-kondisi itu yang menguntungkan nilai tukar rupiah di tahun ini. Namun fundamental ekonomi dalam negeri sebenarnya belum begitu baik. Defisit transaksi berjalan masih menjadi pemberat penguatan rupiah. Jadi ibaratnya penguatan rupiah pun masih rentan.

"Rupiah stabil tapi ototnya belum kuat. Dompet kita belum penuh. Dompet bisa penuh kalau income komoditas lebih besar dari cost komoditas sendiri. Itu secara tradisional. Tapi bisa kalau diperkuat manufakturnya, itu lebih baik," terangnya.

(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com