Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Feb 2019 16:56 WIB

Kenaikan The Fed Cuma Sekali, Rupiah Bisa Perkasa Lawan Dolar AS

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memprediksi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) terjadi sekali tahun ini. Proyeksi ini lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya sebanyak dua kali.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut, keputusan bank sentral AS yang akan menahan untuk menaikkan FFR akan berdampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurutnya, dengan hal tersebut aliran modal asing akan bisa terus meningkat ke Indonesia.

"Kita lihat The Fed, kalimat dovish dari The Fed itu membuat emerging market menarik kembali sehingga capital inflow masuk ke emerging market," katanya dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019).


Dengan aliran modal asing yang semakin deras ke Tanah Air, hal ini dapat menguatkan stabilitas rupiah. BI pun memperkirakan ke depan rupiah akan semakin stabil cenderung menguat.

"Ke depan, BI memandang nilai tukar rupiah akan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar," tambahnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan Fed pada 2019 kemungkinan ada penyesuaian tiga kali. "Tapi kami perkirakan ada penurunan dua kali. Menurut kami Fed tahun ini hanya menaikan satu kali saja," kata Perry.

Dia menyebutkan, meskipun kebijakan moneter berupa suku bunga acuan AS akan lebih longgar, namun The Fed akan melakukan penyesuaian terhadap neraca (balance sheet). Menurut dia, pengurangan balance sheet The Fed akan lebih cepat dibandingkan kenaikan FFR.

"Fed lebih menggunakan adjustment di balance sheet dalam konteks normalisasi kebijakan. Pengetatan lebih rendah untuk suku bunga dan cenderung lebih cepat ke neraca bank sentral atau neraca reduction," jelasnya.


Sebelumnya, pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali pada 2019. Kemudian, proyeksi tersebut berkurang menjadi dua kali.

Keputusan The Fed tersebut dipicu oleh pertumbuhan ekonomi AS yang melambat dipengaruhi oleh terbatasnya stimulus fiskal, permasalahan struktural tenaga kerja, dan menurunnya keyakinan pelaku usaha. Menurut Perry, The Fed akan mengkomunikasikan arah kebijakannya dengan dengan baik melalui forward guidance yang ditangkap pasar.

Kenaikan The Fed Cuma Sekali, Rupiah Bisa Perkasa Lawan Dolar AS
(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed