Sugiharto: Dinar & Dirham Bisa Jadi Alternatif Mata Uang RI
Senin, 19 Sep 2005 12:12 WIB
Jakarta - Di tengah ancaman inflasi dan serangan spekulator, dinar dan dirham yang berbasis emas diyakini bisa menjadi salah satu alternatif mata uang bagi Indonesia."Umat Islam Indonesia perlu satu means of currency, means of exchange yang anti-inflasi, antispekulasi dan antikezaliman," kata Menneg BUMN Sugiharto usai membuka konferensi ke-12 uang logam ASEAN di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (19/9/2005).Menurut Sugiharto, kedua mata uang ini bisa saja digunakan sebagai pembayaran untuk ongkos naik haji atau pembayaran mas kawin. "Wacana uang dinar atau dirham ini dapat saja dijadikan sebagai sistem mata uang Indonesia karena penggunaannya tidak bisa diserang spekulator," ujar Sugiharto.Ia melihat, penggunaan dua mata uang ini memiliki kelebihan, yakni anti-inflasi. Dicontohkan mantan direktur keuangan Medco ini, nilai tukar rupiah dulunya setara dengan 2.000 per dolar AS. Sejalan dengan waktu, rupiah terus terdepresiasi dan mencapai Rp 10.000 per dolar AS saat ini. "Kalau kita menggunakan dinar atau dirham berbasis emas, itu nilainya tetap dari dulu," ujarnya. Dijelaskan Sugiharto, sejumlah negara seperti Malaysia dan Spanyol saat ini sudah menggunakan dinar dan dirham sbagai sistem mata uangnya. Direktur Perum Peruri Abu Bakar Baay menyatakan kesiapan instansinya jika Indonesia betul-betul mengubah mata uangnya menjadi dinar dan dirham. Namun demikian, semua masalah konversi mata uang ini akan diserahkan kepada Bank Indonesia. Mengenai konferensi ini, Abu Bakar mengatakan bahwa semua delegasi akan membicarakan masalah teknis produksi uang logam, seperti perkembangan teknologi percetakan uang logam dan juga sistem keamanan uang serta pertukaran informasi antara negara. Peruri saat ini melakukan order cetak uang dari BI selama tahun 2005 sebanyak Rp 5,2 miliar bilyet uang kertas dan Rp 1,1 miliar keping uang logam.
(qom/)











































