Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 26 Feb 2019 10:12 WIB

Ini Biang Kerok Bunga Bank Naik Terus

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) pada rapat dewan gubernur Februari memutuskan suku bunga acuan tetap berada di level 6%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut saat ini kondisi likuiditas perbankan masih baik, sehingga perbankan tak perlu menaikkan bunga.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan kenaikan suku bunga pada perbankan memiliki sejumlah indikator. Yakni bunga acuan hingga kondisi likuiditas.

Bhima menyebutkan saat ini memang terjadi kenaikan pada suku bunga perbankan baik deposito maupun kredit. "Kenaikan bunga bank ini sebagai dampak bunga acuan Bank Indonesia yang naik tahun lalu," kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Selasa (26/2/2019).

Kemudian dia menjelaskan, saat ini memang kondisi loan to deposit ratio (LDR) atau rasio likuiditas terhadap kredit bank cenderung mengetat. Dia menyebut untuk bank umum kegiatan usaha (BUKU) I dan BUKU II rata-rata memiliki LDR di atas 92%.


"Ini artinya ruang untuk penyaluran kredit hanya tersisa 8%. Ini membuat adanya perebutan dana simpanan," imbuh dia.

Saat ini tak hanya antar bank, perbankan juga saling berebut dana atau likuiditas dengan pemerintah yang saat ini agresif menerbitkan surat berharga dengan bunga 8%. "Bank jadi kalah saing, perebutan dana mengetat. Kalau dibiarkan suku bunga ditahan ini akan berdampak ke pertumbuhan kredit," ujarnya.

Jika suku bunga kredit sudah tinggi, maka pertumbuhan kredit akan berpengaruh. Nah ini akan pengaruh ke undisbursed loan atau kredit yang belum disalurkan karena bank berhati-hati. Dia menyebut pada 2017 undisbursed loan tercatat Rp 1.400 triliun kemudian meningkat menjadi Rp 1.500 triliun. Hal ini menurut Bhima bank sedang berjaga-jaga tidak menyalurkan pinjaman secara agresif karena ada pengetatan likuiditas.



"Ini juga akan menjadi ancaman ke sektor riil yang mengandalkan pinjaman bank, yang akhirnya ekspansi tertunda dan penyerapan kerja terganggu hingga pertumbuhan ekonomi 2019 yang terpengaruh," jelas dia. (kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com