Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 17 Jun 2019 18:46 WIB

BI Tahan Suku Bunga 6% Agar Dana Asing Tidak Cabut

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Dalam rapat dewan gubernur (RDG) bulan Mei, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 6%. Kebijakan menahan suku bunga ini sudah dilakukan sejak 7 bulan yang lalu.

Di dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Gubernur BI Perry Warjiyo mendapatkan pertanyaan terkait suku bunga acuan BI yang tidak bergerak dari level 6%.

Menanggapi hal tersebut Perry menjelaskan, memang dalam RDG terakhir BI masih mencermati kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran Indonesia. Hal ini untuk mempertimbangkan ruang kebijakan moneter yang akomodatif, sejalan dengan rendahnya inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.


Perry menjelaskan, jika mempertimbangkan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong, maka BI sudah tahu jika ada ruang untuk menurunkan suku bunga.

Namun gejolak ekonomi global yang terjadi bisa memicu keluarnya dana asing. Oleh karena itu sikap menahan suku bunga diperlukan untuk menahan pembalikan dana asing.

"Esensinya kan seperti itu, cuma masalahnya kita perlu melihat bagaimana kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran. Sampai saat ini kita sudah diskusi dari minggu lalu dan sekarang ini kondisi pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, apakah diliputi perang dagang, Brexit dan masalah geopolitik yang sewaktu-waktu bisa terjadi pembalikan arus modal asing," kata Perry di komisi XI, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Dia menambahkan, hal tersebut juga memberikan risiko pembiayaan dari defisit transaksi berjalan. Menurut dia, secara musiman pada kuartal II defisit transaksi berjalan lebih tinggi dari kuartal lainnya. Hal ini karena adanya pembayaran utang, repatriasi, dividen dan pembayaran bunga yang dilakukan oleh korporasi.

"Itu biasa secara pola musiman lebih tinggi, kenapa ada kalimat memastikan stabilitas eksternal di sana. Itulah alasannya kenapa kami pertahankan bunga. Tentu saja kami harapkan di semester II tahun ini ketidakpastian global akan mereda kemudian kuartal mendatang defisit transaksi berjalan akan turun dan modal asing masuk untuk dorong stabilitas ekonomi Indonesia," imbuh dia.


Menurut Perry kebijakan yang diambil BI bukan berarti BI tidak pro pertumbuhan, namun BI memiliki instrumen lain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang memastikan bagaimana likuiditas di pasar uang lebih dari cukup dan ekspansi moneter.

Perry mengatakan, dengan suku bunga acuan BI kini bunga kredit turun sekitar 24 basis poin dan sekarang menjadi 10,84% dan bunga deposito naik 106 bps menjadi 6,86% lebih sedikit dibandingkan bunga acuan BI. (kil/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed