Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 18 Jun 2019 14:44 WIB

BI Diprediksi Masih Tahan Suku Bunga Acuan Di Level 6%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) bulanan periode Juni. Salah satunya adalah menentukan suku bunga acuan dan kebijakan lainnya.

Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Reserach Office (AMRO) memproyeksi bank sentral tidak akan melakukan penyesuaian pada suku bunga acuan kali ini.

Chief Economist AMRO Hoe Ee Khor menjelaskan hal ini karena BI memiliki prinsip preemtive, front loading, ahead the curve.

"Saya pikir BI belum akan memangkas suku bunga, BI punya front loading dan market menerimanya sangat baik," kata Hoe dalam media briefing di Gedung BI, Jakarta, Selasa (18/6/2019).


Dia mengungkapkan penahanan suku bunga ini dilakukan juga karena BI melihat kondisi ekonomi global, sebagai bahan pengambilan kebijakan.

Sebelumnya dalam rapat dengar pendapat di komisi XI DPR RI Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, memang dalam RDG terakhir BI masih mencermati kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran Indonesia. Hal ini untuk mempertimbangkan ruang kebijakan moneter yang akomodatif, sejalan dengan rendahnya inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Perry menjelaskan, jika mempertimbangkan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong, maka BI sudah tahu jika ada ruang untuk menurunkan suku bunga.


"Esensinya kan seperti itu, cuma masalahnya kita perlu melihat bagaimana kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran. Sampai saat ini kita sudah diskusi dari minggu lalu dan sekarang ini kondisi pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, apakah diliputi perang dagang, Brexit dan masalah geopolitik yang sewaktu-waktu bisa terjadi pembalikan arus modal asing," kata Perry.

Dia menambahkan, hal tersebut juga memberikan risiko pembiayaan dari defisit transaksi berjalan. Menurut dia, secara musiman pada kuartal II defisit transaksi berjalan lebih tinggi dari kuartal lainnya. Hal ini karena adanya pembayaran utang, repatriasi, dividen dan pembayaran bunga yang dilakukan oleh korporasi.

"Itu biasa secara pola musiman lebih tinggi, kenapa ada kalimat memastikan stabilitas eksternal di sana. Itulah alasannya kenapa kami pertahankan bunga. Tentu saja kami harapkan di semester II tahun ini ketidakpastian global akan mereda kemudian kuartal mendatang defisit transaksi berjalan akan turun dan modal asing masuk untuk dorong stabilitas ekonomi Indonesia," imbuh dia.

Menurut Perry kebijakan yang diambil BI bukan berarti BI tidak pro pertumbuhan, namun BI memiliki instrumen lain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang memastikan bagaimana likuiditas di pasar uang lebih dari cukup dan ekspansi moneter.

Sekadar informasi saat ini suku bunga acuan BI atau BI 7days reverse Repo Rate berada di level 6%, dengan suku bunga lending facility 6,75% dan deposit facility 5,25%. (kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com