Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 02 Sep 2019 14:15 WIB

BPJS Kesehatan Tekor Karena Pendaftaran Mudah Tapi Iuran Macet

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Rapat DPR, Wamenkeu dan Menkes bahas Iuran BPJS Kesehatan, (Vadhia Lidyana/detikFinance) Foto: Rapat DPR, Wamenkeu dan Menkes bahas Iuran BPJS Kesehatan, (Vadhia Lidyana/detikFinance)
Jakarta - Defisit keuangan BPJS Kesehatan masih menjadi problematika di Indonesia. Direktur Utama BPJS Kesehatam Fahmi Idris mengungkapkan, semakin membaiknya akses dan fasilitas BPJS Kesehatan yang menjadi penyebabnya defisit keuangan.

"Semua pihak bertanya mengapa setiap tahun defisit ini semakin lebar. Itu sangat terkait dengan pertama, akses semakin baik jadi rate utilisasi, dulu kita punya data saat awal program kerja berjalan untuk masyarakat miskin tidak mampu rate-nya sangat kecil, sekarang sudah mendekati rate rata-rata," tutur Fahmi dalam rapat kerja dengan Komisi IX dan XI DPR RI, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (2/9/2019).

Maksudnya, Fahmi mengatakan, akses masyarakat untuk mendaftarkan dirinya sebagai peserta BPJS Kesehatan semakin mudah.


Oleh karena akses semakin mudah, penyebab keduanya, yakni semakin banyak fasilitas kesehatan yang melayani peserta BPJS Kesehatan.

"Kedua, jadi akses semakin baik, faskes (fasilitas kesehatan) semakin bertambah, masyarakat semakin sadar. Kemudian juga pola epistemologi (pengetahuan) penduduk Indonesia, di mana penyakitnya endotrophic dominan pola pembiayaan selama ini," jelasnya.

Kedua penyebab di atas mengarah kepada semakin banyaknya masyarakat yang memanfaatkan BPJS Kesehatan. Membludaknya peserta, tidak seimbang dengan iuran atau premi bulanan yang diterima BPJS Kesehatan.

Selain itu, gap atau selisih antara premi dengan biaya manfaat semakin melebar.

"Setelah audit BPKP turun, dilihat ada fraud. Memang akhirnya bahwa secara nyata ditemukan under price terhadap iuran. Rata-rata iuran Rp 36.200/bulan, sedangkan biaya per orang per bulan Rp 46.500, artinya ada gap," terang Fahmi.


Untuk itu, Fahmi mengatakan, premi BPJS Kesehatan akan dinaikkan.

"Itulah yang mendasari perlunya mempersempit gap ini dengan meningkatkan premi per member per bulan," kata Fahmi.

Sebagai informasi, angka defisit keuangan BPJS Kesehatan pada tahun 2018 sebesar Rp 10,98 triliun. Di tahun ini, defisitnya diprediksi mencapai Rp 32 triliun.

Simak Video "Keanggotaan BPJS Kesehatan 200 Lebih Ribu Warga Dinonaktifkan!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com