Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 05 Sep 2019 14:51 WIB

Cara Rudy Eks Bos Bank Bali Mencari Keadilan

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Rudy Ramli resmi kehilangan perusahaannya, Bank Bali pada 22 Juli 1999. Saat itu bank milik keluarganya itu resmi berstatus Bank Take Over (BTO) dan menjadi pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Awal mula kisah suram Rudy mulai dari rentetan peristiwa yang mengakibatkan Bank Bali akhirnya harus ikut direkap senilai Rp 1,4 triliun.

Bank ini memberikan utang kepada bank-bank yang tidak sehat sebelum reformasi. Malangnya utang itu tidak dapat ditagih.

Bank Bali pun harus melakukan rekapitalisasi. Dari beberapa calon investor baru Bank Bali memilih GE Capital dan kemudian meneken MoU kerja sama pada 12 Maret 1999. Namun BI dan BPPN menolak itu dan memaksa Bank Bali memilih Standard Chartered Bank (SCB).


Rudy curiga ada konspirasi besar di balik SCB hingga akhirnya dia harus ditendang perusahaannya sendiri. Kini 20 tahun berlalu, Rudy kembali untuk mencari keadilan.

Dia telah mendatangi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Juli kemarin untuk melaporkan penjualan Bank Permata yang merupakan gabungan Bank Bali dan beberapa bank lainnya kepada SCB. Dia menuding adanya kerugian negara pada transaksi tersebut.

Rudy mengatakan pemerintah sudah mengeluarkan uang Rp 11,9 triliun untuk menggabungkan bank-bank termasuk Bank Bali menjadi PT Bank Permata Tbk. Namun BPPN melepas Bank Permata kepada SCB hanya dengan nilai Rp 2,7 triliun.


"Kita sudah ke KPK, ke BPK dan sudah kirim surat ke OJK. Kami juga berencana akan ke Kejaksaan. Kan Pemilu ini sudah selesai. Kita tahan diri agar tak mau buat gaduh," ujarnya kepada detikcom.

Lalu kenapa Rudy baru bergerak sekarang? Jawabnya karena SCB saat ini berniat untuk melepas kepemilikan sahamnya di Bank Permata. SCB saat ini memiliki saham di emiten berkode BNLI itu sebesar 44,56%. Seluruhnya akan dijual.

Selain melakukan pelaporan kepada pihak-pihak yang berwenang, Rudy juga telah melaporkan kepada calon-calon pembeli saham BNLI milik SCB tersebut. Tujuannya untuk mempengaruhi calon investor agar tak jadi beli sahamnya.

"Kalau calon pembelinya sudah dikasih tahu bahwa ini bermasalah, setidaknya mereka jadi mikir-mikir. Kami sudah kirimi surat ke calon-calon pembeli saham Bank Permata," tambahnya.

Rudy sendiri mengaku, dulu sebelum Bank Bali hancur dan melebur menjadi Bank Permata, keluarganya mengendalikan perusahaan itu. Rudy tercatat memiliki 55% saham Bank Bali.

"Jika berhasil ya pastinya saya ingin mengembalikan Bank Bali seperti awal kami mendirikannya. Bank Bali dulu bermanfaat untuk pengusaha kecil. Tidak seperti bank dulu yang dibangun untuk membiayai proyek grup mereka. Kalau kami memang tidak punya grup usaha," tutupnya.

Simak Video " Indonesia Sukses Bikin Pertemuan IMF-World Bank Berkelas"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com