Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 19 Nov 2019 06:51 WIB

Sudah Tahu Bank Emok? Rentenir Emak-emak yang Marak Lagi

Danang Sugianto - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pinjaman mikro ternyata masih digunakan sebagai kedok untuk praktik rentenir. Salah satu yang sedang heboh adalah maraknya praktik bank emok di wilayah Jawa Barat.

Bank emok sendiri berasa dari bahasa Sunda yang artinya duduk lesehan. Praktik ini memberikan pinjaman kepada ibu-ibu rumah tangga pada umumnya dengan bunga yang mencekik.

Fenomena ini kembali dipaparkan oleh salah satu anggota Komisi XI saat melakukan rapat kerja dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebab ternyata BPR yang sudah berizin OJK juga melakukan praktik yang sama.

Bank emok belakangan ini heboh di wilayah sekitaran Jawa Barat. Pinjaman mikro ini dianggap sebagai cara baru rentenir beroperasi.

"Banyak aduan di wilayah pemilihan saya di Karawang Bekasi ada bank emok. Itu bank keliling. Awalnya saya menganggap bank emok rentenir berkedok koperasi dengan bunga yang tinggi hingga 20%," kata Anggota Komisi XI Puteri Komarudin saat rapat dengan OJK di Gedung DPR, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Puteri sendiri mengaku sudah melakukan penyelidikan di dapilnya selama 8 bulan terkait praktik bank emok itu. Ternyata banyak juga bank yang sudah mendapatkan izin dari OJK yang melakukan praktik tersebut.

"BPR juga ternyata menjadi penyalur utama pinjaman mikro ini. Yang disayangkan perempuan menjadi target utama dari bank emok ini karena sanksi sosial," ujarnya.

Praktik bank emok sendiri memberikan persyaratan yang sangat mudah, mengingat target utamanya adalah ibu rumah tangga. Menurut hasil penyelidikan Puteri syaratnya hanya KTP, KK dan tanda tangan suami yang sering dipalsukan.

"Bahkan karena itu ada yang sampai diceraikan," tambahnya.

Puteri menambahkan, dalam praktiknya bank emok juga sedikit memaksa dalam menyalurkan kredit. Salah satu skemanya dengan memberikan kredit per kelompok usaha.

"Setiap kelompok harus punya 10 anggota. Semuanya harus punya usaha. Tapi ternyata hanya ada 5 orang yang memiliki usaha dan 5 orang lainnya dipaksa," terangnya.

Alhasil sisa emak-emak yang tidak memiliki usaha meminjam utang itu hanya untuk kebutuhan konsumtif. Sementara pembayarannya harus tanggung renteng.

"Kalau ada yang tidak bisa bayar orang yang lain harus bayar. Ini malah menurunkan taraf hidup mereka. Karena para pengusaha itu harus menutup lubang dari teman-temannya," tambah Puteri.

Menurutnya praktik ini sudah sangat menyebar di berbagai wilayah dengan julukan nama yang berbeda-beda. Seperti bank jongkok bahkan bank kelek karena catatannya yang diselipkan di ketiak.

Lanjut ke halaman berikutnya >>> (das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com