Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Nov 2019 09:35 WIB

Akankah BI Pangkas Bunga Acuan Lagi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur yang digelar sejak kemarin. Salah satu yang diumumkan adalah suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto memprediksi BI akan tetap mempertahankan bunga acuan di level 5%. Hal ini mempertimbangkan ekspektasi inflasi yang tetap terkendali yakni 3,5% plus minus 1%. Adapun realisasi akhir tahun ini diperkirakan rendah di kisaran 3,2% secara tahunan.

Lalu posisi cadangan devisa sebesar US$ 126,7 miliar dan surplus neraca dagang Oktober US$ 161 juta membuat BI bisa menahan bunga acuan.

"Dengan kondisi tersebut opsi terbaik adalah BI mempertahankan BI 7days reverse repo rate di level 5%. Pertimbangan lainnya adalah untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS, di tengah faktor eksternal (trade war, Brexit, risiko geopolitik) yang masih belum kondusif terhadap perekonomian Indonesia," kata Ryan dalam keterangan tertulis, Kamis (21/11/2019).

Dia bilang langkah BI selama ini sudah benar sehingga sudah saatnya BI 'menahan diri' untuk cooling down dulu dengan tidak lagi menurunkan BI7DRR karena efek penurunan BI7DRR yang sebelumnya (24/10) masih berlangsung hingga saat ini.



Demikian halnya dengan posisi Deposit Facility Rate dan Lending Facility Rate, pun sebaiknya tetap bertahan di level sekarang ini. Menurut dia, harus dipahami pula bahwa The Fed sudah memberikan signal untuk tidak lagi melanjutkan penurunan suku bunga sehingga respon terbaik oleh BI adalah menahan suku bunga acuan.

Menurut Ryan, ketika semua kebijakan BI dikeluarkan untuk melanjutkan momentum pertumbuhan, sudah saatnya kebijakan fiskal mengambil peran lebih besar melalui serapan belanja K/L yang lebih cepat agar kebijakan moneter dan makroprudensial mencapai maksud dan tujuannya.

"Yaitu mendorong permintaan kredit ketika likuiditas tidak lagi menjadi ganjalan bagi perbankan lantaran ada guyuran likuiditas dari akselerasi serapan belanja pemerintah jelang tutup tahun," ujar dia.

Setali tiga uang, Ekonom PT Bank Permata, Josua Pardede memperkirakan BI tetap mempertahankan bunga acuan di level 5% setelah memangkas bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Juli lalu. Menurut dia suku bunga acuan saat ini masih konsisten dalam menjangkar ekspektasi inflasi serta mendorong stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

"Suku bunga saat ini juga diperkirakan akan tetap membuat asset keuangan rupiah tetap atraktif mempertimbangkan ekspektasi pelaku pasar bahwa Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada FOMC bulan Desember mendatang," ujarnya.

Selain itu, mempertimbangkan suku bunga RR-SUN 12 bulan yang masih tetap stabil, maka suku bunga acuan BI diperkirakan masih akan tetap di level 5%.



Simak Video "Suku Bunga AS Naik, BI: Ekonomi RI Stabil"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com