BI Diprediksi Tahan Bunga Acuan di 5%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 19 Des 2019 09:21 WIB
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) periode Desember 2019. Salah satu hasilnya adalah suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto memproyeksi BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5% dengan lending facility dan deposit facility yang tetap.

Pertimbangannya adalah demi menjaga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar AS di tengah mulai meredanya faktor eksternal seperti trade war, Brexit dan risiko geopolitik.

"Jadi langkah BI selama ini sudah ahead the curve dan preemptive terhadap faktor risiko sehingga sudah saatnya BI 'tetap menahan diri' untuk tidak menurunkan BI 7 days reverse repo rate karena efek penurunan dan relaksasi kebijakan makroprudensial yang ditetapkan sebelumnya masih berlangsung," ujar Ryan dalam keterangannya, Kamis (19/12/2019).

Demikian halnya dengan Deposit Facility dan Lending Facility, diharapkan tetap bertahan di level sekarang ini. Harus dipahami pula bahwa The Fed sudah memberikan signal untuk tidak lagi melanjutkan penurunan suku bunga acuan. Dia menyebut kalaupun FFR akan turun, mungkin di kuartal 1 atau kuartal 2 di 2020.


"BI memberikan ruang bagi perbankan untuk meningkatkan ekspansi kreditnya seiring dengan melonggarnya likuiditas bank karena ada dorongan dari relaksasi GWM dan percepatan belanja barang dan modal oleh pemerintah (Kementerian/Lembaga) di kuartal 4/2019 ini sehingga momentum pertumbuhan tetap bisa dilanjutkan," jelas dia.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi BI akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya BI7RR di level 5% pada RDG bulan Desember ini. Meskipun ekspektasi inflasi tetap terkendali dalam jangka pendek dan nilai tukar rupiah juga tetap stabil.

"Bank Indonesia perlu menjaga interest rate difference mempertimbangkan bahwa Fed berpotensi akan mempertahankan suku bunga Fed di kisaran 1,5%-1,75% sepanjang tahun 2020," ujarnya.

Upaya mempertahankan interest rate difference ditujukan untuk tetap menjaga daya tarik aset keuangan rupiah sehingga tetap mendorong aliran modal masuk yang selanjutnya dapat meningkatkan likuiditas di sektor perbankan.

Selain itu, suku bunga acuan BI saat ini masih konsisten dengan upaya BI menjaga defisit transaksi berjalan di level yang lebih sehat mengingat ekspektasi defisit transaksi berjalan pada kuartal 4 2019 diperkirakan akan kembali melebar dibandingkan kuartal sebelumnya.



Simak Video "Penyederhanaan Nilai Rupiah alias Redenominasi Nongol Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)