Sepanjang 2019, Kredit BNI Tembus Rp 556 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 22 Jan 2020 18:59 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) periode 2019 mencatatkan pertumbuhan kredit Rp 556,77 triliun tumbuh 8,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya

Direktur Keuangan BNI Ario Bimo menjelaskan pertumbuhan kredit BNI tersebut masih berada di atas pertumbuhan kredit industri yaitu sebesar 6,5% hingga Oktober 2019.

"Di tengah kondisi perekonomian yang menantang, mesin bisnis BNI masih tetap tangguh di sepanjang tahun 2019," kata Ario dalam konferensi pers di Kantor BNI, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Dia mengungkapkan, BNI juga mencatatkan pertumbuhan kredit konsumer sebesar 7,7% yoy menjadi Rp 85,87 triliun. Kemudian Kredit Tanpa Agunan masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan kredit konsumer BNI, yaitu tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 2,7 triliun.

Kemudian saat ini BNI masih fokus pada penyaluran kredit pemilikan rumah atau BNI Griya karena komposisi kredit ini terhadap total Kredit Konsumer mencapai 51,4% atau mencapai Rp 44 triliun. BNI Griya tumbuh 8,3% yoy berkat berbagai perbaikan yang telah dilakukan antara lain ekspansi pada kaum milenial selaras dengan program pemerintah.

Sementara untuk kredit segmen korporasi masih tetap tumbuh 9,8% yoy. Kredit korporasi terutama disalurkan ke sektor usaha manufaktur, serta listrik, gas, dan air.

"Pinjaman infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas dalam menumbuhkan pinjaman segmen bisnis korporasi ini, salah satunya adalah proyek jalan tol. Pembiayaan jalan tol yang dilakukan BNI difokuskan pada ruas-ruas tol dengan tingkat LHR yang tinggi, yaitu terutama ruas-ruas tol di Pulau Jawa," jelas dia.

Sementara itu untuk dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 614,31 triliun atau tumbuh 6,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 578,78 triliun.

DPK tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 22,3% yoy. Dana murah yang terhimpun tersebut memperbaiki rasio CASA BNI menjadi 66,6%. Membaiknya CASA tersebut menyebabkan BNI dapat menjaga cost of fund terjaga pada level 3,2%.

Upaya yang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan CASA, yaitu meningkatkan jumlah branchless banking dari 112.000 menjadi 157.000 Agen46. Penambahan jumlah rekening juga menjadi sumber peningkatan CASA. Pada akhir tahun 2018, jumlah rekening masih sebanyak 43,5 juta rekening, lalu pada akhir tahun 2019 bertambah menjadi 46,6 juta rekening.

Agen46 merupakan kepanjangan tangan BNI dalam memberikan layanan perbankan kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke outlet-outlet BNI. Agen46 merupakan simbol suksesnya Program Laku Pandai yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilaksanakan oleh BNI selama ini.

Pencapaian tersebut juga diperkuat oleh CAR yang membaik dari 18,5% menjadi 19,7%, sehingga sangat layak untuk menopang pertumbuhan bisnis BNI ke depan. Inisiatif efisiensi terus berjalan dengan baik dan diharapkan akan tercermin dalam peningkatan Cost to Income Ratio,yang akan dipertahankan di level 43% -44%. "Hal ini juga disebabkan oleh keberhasilan BNI dalam menjaga pertumbuhan Biaya Operasional (OPEX) stabil pada level 8,7%," imbuh dia.

Pada akhir 2019, BNI mencatatkan Total Aset sebesar Rp 845,61 triliun atau tumbuh 4,6% yoy dibandingkan akhir 2018 yang mencapai Rp 808,57 triliun. Pertumbuhan aset BNI ini jauh melampaui pertumbuhan aset di industri perbankan yang mencapai 5,9% yoy per Oktober 2019.

Kontribusi kelima Anak Usaha terhadap kinerja BNI tumbuh 33,3% secara yoy. Kinerja Anak Usaha berhasil menyumbang 11,6% dari laba yang diperoleh oleh BNI Grup.

Sepanjang 2019, Kredit BNI Tembus Rp 556 T


Simak Video "Pegawai Suspek Corona, 7 Kantor Bank BUMN di Yogyakarta Ditutup"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)