Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 10 Feb 2020 14:04 WIB

DPR Duga Ada Konspirasi di Kasus Jiwasraya

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kantor Pusat Jiwasraya Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta -

Anggota Komisi XI Misbakhun dari fraksi Partai Golkar menduga ada konspirasi atau persekongkolan dalam kasus investasi saham gorengan dan reksa dana yang dilakukan oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Hal itu ia yakini ketika Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Uriep Budhi Prasetyo mengungkapkan bahwa produk investasi reksa dana yang ditawarkan oleh manajer investasi sebagian besar dibuat khusus untuk Jiwasraya.

"Kalau dibaca dari hasil manajer investasi yang mempunyai izin, kemudian harusnya knowledgeable-nya juga sebagai fund manager yang benar, isinya itu produknya hanya beberapa seperti taylor made (dibuat khusus) untuk Jiwasraya. Ini kalau dilihat dari hasil pengamatan isi dari manajer investasi," ungkap Uriep dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Sebelumnya Misbakhun memang mempertanyakan apakah ada konspirasi dalam pembelian reksa dana yang dilakukan Jiwasraya.

"Produk itu dibuat khusus untuk Jiwasraya? Kalau istilah Bapak taylor made, jadi merek membuat produk investasi khusus untuk Jiwasraya?" tanya Misbakhun kembali untuk mempertegas pernyataan Uriep.

"Iya," jawab Uriep.

Mendengar jawaban Uriep, ia meyakini ada konspirasi. "Kalau begitu kita sudah dapat jawabannya, ini konspirasi," tegas Misbakhun.

Tak hanya Misbakhun, Wakil Ketua Komisi XI Amir Uskara sebagai pimpinan rapat pun setuju dengan teori konspirasi ini.

"Saya kira kita sepakat," sahut Amir.

Kemudian, Uriep kembali memaparkan, dalam setiap penjualan reksa dana open end biasanya dibeli oleh beberapa investor. Bahkan, untuk produk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) dapat dibeli oleh 49 investor.

Jika melihat produk reksa dana yang diinvestasikan Jiwasraya, 70-90%nya hanya dibeli oleh perusahaan asuransi pelat merah tersebut.

"Kalau produknya namanya reksa dana open end harusnya kan bisa beberapa investor ya. Kalau RDPT hanya terbatas 49 pihak. Nah ini mereka banyak produknya open end. Tapi investornya kalau mau dilihat data yang kami berikan itu, let's say Asset Under Management (AUM)-nya sekian, tapi Jiwasraya isinya rata-rata di-range-nya 70-90%. Itu datanya sudah kami berikan," papar Uriep.

Ditanyakan lebih lanjut mengenai konspirasi ini, Misbakhun menjelaskan, adanya penggeseran instrumen investasi yang dilakukan Jiwasraya.

"Pertama mereka punya direct investment di investasi dalam bentuk efek. Lalu bergeser lagi pada reksan dana yang isinya saham yang dibeli dalam bentuk efek dan sebagainya, itu terjadi. Itu sudah jelas. Clear tadi dalam rapat," pungkas Misbakhun.



Simak Video "Ada Eks Orang Istana Jadi Direksi Jiwasraya, Ini Faktanya"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com