Ini Cara Tangkis Virus Corona Ala BI Biar Ekonomi Nggak Loyo

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 29 Feb 2020 17:15 WIB
logo bank indonesia
Bank Indonesia/Foto: Rengga Sancaya
Bandung -

Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 akan lebih rendah yakni di kisaran 5-5,4% dari perkiraan semula 5,1-5,5%. Meski demikian, BI tetap optimistis, Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan sebesar 5,4%.

"Terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi, memang kami sudah sampaikan tadi, bahwa kita turunkan dari 5,1%-5,5% menjadi 5,0%-5,4%, tapi boleh dibilang kalau kita average itu optimisnya 5,4% (tercapai), kita harus optimis dengan hal itu," ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI IGP Wira Kusuma dalam Pelatihan Wartawan BI di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Sabtu (29/2/2020).

Lalu, bagaimana kiat BI bersama pemerintah untuk mencapai target tersebut?

Menurut Wira, untuk mencapai target tersebut, BI sudah menyiapkan strategi khusus salah satunya menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate. Sebagaimana diketahui, pekan lalu per 20 Februari 2020, BI telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Meski dampak ekonomi dari kebijakan ini tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat, namun Wira yakin dalam jangka panjang kebijakan tersebut mampu membantu Indonesia mencapai angka pertumbuhan 5,4% tersebut.

"Kita sudah turunkan suku bunga, meski transmisi penurunan suku bunga itu membutuhkan waktu untuk berdampak pada perekonomian, namun kita harapkan dengan penurunan suku bunga yang sedang kita lakukan di 2020 ini akan berdampak lebih signifikan nantinya," katanya.

Hal lain yang juga digenjot adalah reformasi struktural baik terutama dari pembangunan infrastruktur.

"Dari reformasi struktural yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, kita sudah bicara tentang infrastruktur, hard infrastruktur artinya infrastruktur yang terkait dengan konstruksi dan segala macamnya. Bisa dibilang sudah cukup berhasil mulai dari jalan tol dan lain sebagainya, dan itu juga memerlukan waktu juga untuk menciptakan multiplier effect kepada perekonomian dan kita harapkan tahun ini dampaknya akan lebih signifikan. Nah, itu akan menambah investasi khususnya investasi bangunan," sambungnya.

Selanjutnya, reformasi dari sisi regulasi salah satunya dari Omnibus Law. Menurut Wira, bila pengesahan beleid ini berjalan cepat dan mulus maka dapat menarik investasi lebih banyak dan besar dari sebelumnya.

"Kita bicara soft infrastructure yaitu regulasi-regulasi, itu satu hal yang dilakukan pemerintah saat ini adalah Omnibus Law, itu kalau berhasil dengan baik, dengan smooth itu juga akan meningkatkan investasi, nah dengan beberapa langkah respons pemerintah tersebut dari bank sentral, dari fiskal, sektor riil, kementerian dan lembaga dengan koordinasi yang baik, maka target 5,4% itu tentu bisa tercapai," pungkasnya.



Simak Video "Kayu Putih Hidupkan Desa Wonoharjo"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)