Corona Bikin Ekonomi Kocar-kacir, Nasib Bank Bakal Seperti 1998?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 31 Mar 2020 17:05 WIB
Petugas menyemprot cairan disinfektan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Hal itu dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus corona.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi perbankan nasional masih kuat meski digempur dampak penyebaran Covid 19 sejak Februari lalu.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan indikator tersebut tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang masih berada di kisaran 23% dan non performing loan (NPL) di kisaran 2,5% secara gross.

"Saya harus sampaikan di awal kondisi perbankan di Indonesia jauh lebih kuat dibanding 2008 dan 1998. Secara umum ketahanan perbankan kuat, saya tidak katakan Covid 19 berdampak ke perbankan. Covid 19 ini adalah pandemik yang bisa berdampak ke perekonomian," kata Perry dalam video conference di Jakarta, Selasa (31/3/2020).

Dia mengungkapkan karena itu pemerintah dan bank sentral menyiapkan stimulus fiskal melalui bantuan sosial, serta stimulus kebijakan relaksasi kredit bagi debitur usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dengan adanya stimulus-stimulus ini diharapkan pelemahan ekonomi tidak terlalu berdampak besar ke kesehatan perbankan.


"Bagaimana UMKM juga untuk menambah pemasukan dan juga mengurangi beban UMKM sehingga dampak pelemahan tak terlalu besar berdampak besar ke perbankan karena bisa di mitigasi," kata Perry.

Tak hanya itu, BI juga telah menjalankan kebijakan makroprudensial dengan menurunkan bunga acuan hingga saat ini pada level 4,5% serta memastikan likuiditas cukup, relaksasi ketentuan makroprudensial serta kebijakan lain untuk kesehatan perbankan di tengah pandemi COVID-19.



Simak Video " Dobrak Pintu, Begini Detik-detik Penangkapan Mafia Perbankan"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ang)