Suku Bunga Acuan BI Diramal Tetap 4,5%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2020 09:23 WIB
logo bank indonesia
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Hari ini Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur bulanan. Salah satu kebijakan yang diambil adalah suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan BI diprediksi akan menahan suku bunga acuan di level 4,5% sama dengan Lending Facility dan Deposit Facility.

"Keputusan ini memang tidak mudah, karena ekspektasi inflasi masih dalam jangkar yg 3% sehingga sebenarnya BI masih punya ruang untuk turunkan BI rate. Hanya saja, BI masih punya PR lain, yakni menstabilkan pergerakan kurs rupiah sesuai fundamentalnya sehingga Rupiah tidak undervalued," kata Ryan dalam keterangannya, Selasa (14/4/2020).

Dia menjelaskan ketika situasi eksternal masih bergejolak, rawan bagi rupiah untuk tertekan, sehingga bunga acuan adalah salah satu solusinya.

Ketika situasi eksternalnya masih bergejolak, rawan bagi Rupiah untuk tertekan, sehingga menahan BI rate merupakan salah satu solusinya. Ryan menjelaskan hal-hal ini dilakukan dengan melihat pertimbangan ekonomi pada kuartal I 2020 yang belum optimal.

Tercermin dari indeks PMI di bawah 50 ini artinya ada kontraksi ekonomi dan hasil survei BI tentang Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal I 2020 yang menurun. Semua hal ini mencerminkan kekhawatiran pelaku usaha dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19.

Ekonom PermataBank Josua Pardede mengungkapkan BI akan mempertahankan suku bunga acuan dengan pertimbangan sejumlah indikator makro ekonomi. Pertama, Inflasi hingga akhir tahun 2020 diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 2,9-3,3%, masih dalam target sasaran inflasi BI tahun ini di kisaran 3±1%.

Terkendalinya inflasi tahun 2020 ini dipengaruhi oleh dampak negatif dari COVID-19 terhadap perekonomian dimana potensi perlambatan ekonomi domestik termasuk penurunan laju konsumsi rumah tangga sehingga akan membatasi tekanan demand pull inflation.

Kedua, perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek ini masih dipengaruhi oleh sentiment risk averse di tengah COVID-19 mempertimbangkan eskalasi COVID-19 secara global yang terus meningkat sehingga mendorong ekspektasi perlambatan ekonomi global.

"Volatilitas nilai tukar rupiah secara rata-rata menurun yang terindikasi dari one-month implied volatility yang meningkat menjadi 26% dalam ±3 minggu terakhir," ujarnya.

Di tengah volatilitas rupiah yang meningkat tersebut, nilai tukar rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 14,5%Ytd, dan merupakan nilai tukar yang mengalami depresiasi terbesar di kawasan Asia secara tahun kalender. Sehingga, suku bunga acuan BI saat ini di level 4,5% diperkirakan akan dapat membatasi capital flight dari pasar keuangan domestik dalam jangka pendek ini.

Ketiga, Di tengah masa pandemi COVID-19 yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, maka respon kebijakan yang perlu diprioritaskan adalah kebijakan dalam rangka mengatasi krisis kesehatan yakni dengan menangani gangguan kesehatan dan menjaga keselamatan jiwa.

Selanjutnya, menjaga konsumsi masyarakat terutama miskin dan rentan dengan segera menyalurkan social safety net yang akan menjaga daya beli masyarakat khususnya pekerja di sektor informal yang terkena dampak sangat signfikan dari penurunan aktivitas ekonomi. Kebijakan-kebijakan seperti itulah yang cenderung akan efektif dan produktif di tengah masa pandemi COVID-19 ini.

Meskipun ruang penurunan suku bunga acuan terbuka mempertimbangkan respon kebijakan bank sentral global yang akomoditif bahkan mendekati level 0% pada beberapa bank sentral negara maju.

"Namun demikian, BI perlu fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam rangka menjaga confidence pelaku pasar di tengah masih tingginya ketidakpastian global akibat COVID-19. Selain itu, respon kebijakan fiskal melalui 3 paket stimulus kebijakan diperkirakan akan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," imbuhnya.



Simak Video "Transaksi Dinar-Dirham Bisa Dibui, Ini Kata Pedagang Pasar Muamalah"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/fdl)