BI Gelontorkan Likuiditas Rp 633 T, Apa Dampaknya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 16 Jul 2020 16:45 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi likuiditas dan suku bunga pasar uang masih tetap memadai dengan strategi operasi moneter. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan hingga 14 Juli 2020 BI telah menyuntikkan likuiditas atau quantitaive easing sebanyak Rp 633,24 triliun.

Quantitative easing ini terdiri dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) Rp 155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 462,4 triliun. Quantitative easing adalah salah satu kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral untuk meningkatkan jumlah uang beredar.

"Longgarnya kondisi likuiditas tercermin pada rendahnya suku bunga pasar uang antar bank, saat ini sekitar 4% pada Juni 2020, kemudian rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (DPK) tetap besar yakni 24,33% pada Mei 2020," kata Perry dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/7/2020).

Perry menyebut saat ini likuiditas yang memadai serta penurunan suku bunga kebijakan (BI7DRR) berkontribusi menurunkan suku bunga perbankan. Sejalan dengan penurunan suku bunga PUAB, secara rata-rata tertimbang suku bunga deposito tercatat 5,74% dibandingkan sebelumnya 5,85%. Kemudian bunga kredit modal kerja 9,48% dibandingkan periode Mei 2020 9,6%.

Pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Mei 2020 juga meningkat menjadi 9,7% (yoy) dan 10,4% (yoy). Perry mengharapkan ekspansi moneter BI yang sementara ini masih tertahan di perbankan dapat lebih efektif mendorong pemulihan ekonomi nasional dengan percepatan realisasi anggaran dan program restrukturisasi kredit perbankan.

Ke depan, BI tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif sejalan dengan bauran kebijakan yang telah diambil sebelumnya serta bauran kebijakan nasional, termasuk berbagai upaya untuk memitigasi risiko di sektor keuangan akibat penyebaran COVID-19.



Simak Video "Penyederhanaan Nilai Rupiah alias Redenominasi Nongol Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)