Peluang Ekspor Produk Organik Terbuka di Tengah Pandemi

Yudha Maulana - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2020 23:15 WIB
Bir jadi salah satu minuman populer di Belgia. Siapa sangka dengan andalkan ampas bir organik, kebun bawah tanah di Belgia mampu budi-dayakan aneka jenis jamur.
Ilustrasi produk organik/Foto: AP Photo/Virginia Mayo
Bandung -

Produk organik menjadi komoditas primadona selama pandemi COVID-19, darurat kesehatan pasalnya mendorong masyarakat untuk menerapkan gaya hidup yang sehat. Direktur Pengembangan Produk Ekspor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Olvy Andrianita melihat peluang itu melihat peluang bisnis terbuka lebar dengan munculnya momentum tersebut.

"Secara momentum, masyarakat melakukan perubahan. Hingga pemilihan produk organik menjadi life style," kata Olvy disela acara Klinik Produk Ekspor "Peningkatan Daya Saing Produk Organik Indonesia di Pasar Global Pada Tatanan Kehidupan Normal" di Novotel Bandung, Kamis (27/8/2020).

Kebutuhan akan produk organik pun meningkat tak hanya di pasar lokal, kebutuhan produk organik di pasar mancanegara pun meningkat tajam seperti di Uni Eropa, Amerika dan beberapa negara lainnya yang masih membutuhkan turunan produk organik atau non agri seperti sabun atau shampo organik.

"Peluang pasar produk organik masih sangat besar, inilah yang perlu didorong agar produk organik kita bisa punya daya sang di pasar global," kata Olvy.

Saat ini, kata Olvy, Indonesia sudah masuk pasar produk organik global untuk komoditas kopi, teh, vanila, rempah-rempah, serta sayuran. Namun dari sisi besaran ekspor produk organik Indonesia ke Uni Eropa baru berkontribusi 7.848 ton atau hanya 0,2%.

Kesempatan ini harus dimanfaatkan betul, dalam catatanya, pertumbuhan penjualan makanan dan minuman berbasis organik meningkat 8,4% sejak 2017 lalu.

"Ini menjadi peluang terlebih saat ini ada perubahan konsumsi masyarakat yang semakin meningkat terhadap produk yang sehat dan higienis," katanya.

Kendati begitu, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh pelaku usaha di bidang produk organik ini baik dari luar atau dalam negeri.Sejauh ini, pasar produk organik masih terkonsentrasi di negara-negara maju. Belum lagi perang dagang antara Amerika Serikat dan RRT juga turut memengaruhi.

Langsung klik halaman selanjutnya.

Sementara itu, ujar Olvy, saat ini lahan dan sumber daya manusia yang mengelah produk organik dalam negeri masih terbatas. Sertifikat organik Indonesia pun belum sepenuhnya diakui dunia.

"Namun kami terus mendorong peningkatan ekspor produk organik terutama untuk produk-produk andalan yang memang khas Indonesia, seperti vanila kita yang diakui dunia karena berbeda dengan vanila dari negara lain," katanya.

Khusus Jawa Barat, kata Olvy, peluang produk organik juga cukup besar seperti kopi, teh, dan beras. Bahkan kopi dan teh asal Jawa Barat sudah menembus pasar global. Petani beras di Tasikmalaya juga sudah ada yang menanam beras organik. Sedangkan untuk sayuran juga sudah banyak yang mengembangkan konsep organik.

Pelaku usaha juga diharapkan makin kreatif bisa mengolah produk turunan seperti salah satu pelaku usaha kopi dan teh dari Ciwidey yang mengolah produk tersebut jadi makanan cokelat serta produk kosmetik seperti masker. "Pertanian menjadi andalan Jawa Barat, karena itu produk-produk organik bisa dikembangkan," pungkasnya.



Simak Video "KuTips: Memilih Masker Organik yang Aman"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/hns)