Bunga Acuan BI Ditahan di 4%, Bagaimana Dampaknya ke Bunga Bank?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 17 Sep 2020 16:45 WIB
Fokus Bunga Kredit Turun
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta -

Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) saat ini tercatat 4% angka ini merupakan yang terendah sejak 2016. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kondisi likuiditas lebih dari cukup dan terus mendorong penurunan suku bunga dan kondusif bagi pembiayaan perekonomian.

Perry menyebut longgarnya likuiditas serta penurunan suku bunga kebijakan (BI7DRR) berkontribusi menurunkan suku bunga.

"Bunga deposito pada Agustus 2020 menjadi 5,49% dari sebelumnya 5,63%. Lalu bunga kredit modal kerja pada Agustus 2020 9,44% dari sebelumnya 9,47%," kata dia dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/9/2020).

Sementara itu, imbal hasil SBN 10 tahun pada Agustus-September 2020 meningkat dari 6,83% pada Juli 2020 menjadi 6,87% pada Agustus 2020 dan 6,92% per 15 September 2020 sejalan proses penyesuaian pelaku asing di pasar keuangan domestik.

Dari besaran moneter, pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Agustus 2020 meningkat menjadi 19,3% (yoy) dan 13,3% (yoy) terutama didorong dampak ekspansi operasi keuangan pemerintah.

Ke depan, ekspansi moneter Bank Indonesia yang sementara ini masih tertahan di perbankan diharapkan dapat lebih efektif mendorong pemulihan ekonomi nasional sejalan percepatan realisasi anggaran dan program restrukturisasi kredit perbankan.

Hingga 15 September 2020, Bank Indonesia telah menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sekitar Rp662,1 triliun. "Terutama bersumber dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp491,3 triliun," ujarnya.

Longgarnya kondisi likuiditas mendorong tingginya rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yakni 29,22% pada Agustus 2020 dan rendahnya suku bunga PUAB overnight, sekitar 3,31% pada Agustus 2020.



Simak Video "Tips Hadapi Permintaan Harga Teman"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)