Cara Jaga Kesehatan Finansial dengan Investasi Digital Saat Pandemi

Abu Ubaidillah - detikFinance
Senin, 21 Sep 2020 16:17 WIB
ilustrasi investasi
Ilustrasi/Foto: shutterstock
Jakarta -

Pada masa pandemi, masyarakat harus selalu menjaga kesehatan finansialnya untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan. Salah satu cara menjaga kesehatan finansial agar bisa memenuhi berbagai macam keperluan yang mungkin jarang terpikir oleh banyak orang adalah berinvestasi.

Menurut Pendiri OneShildt Financial Planning, Risza Bambang, investasi bisa digunakan sebagai dana tua maupun keperluan lainnya seperti dana pendidikan anak dan sebagainya. Ia menyarankan alokasi keuangan dengan formula 50:30:10:10. Rinciannya adalah 50% biaya hidup, 30% cicilan kredit, 10% investasi, dan 10% proteksi diri atau keluarga. Jika tak memiliki cicilan, alokasi 30% bisa dialihkan untuk investasi.

Instrumen investasi yang bisa dipilih di masa pandemi adalah yang memiliki keuntungan rendah atau menengah untuk investasi jangka pendek seperti surat utang, deposito, dan emas. Sementara instrumen yang memiliki imbal hasil tinggi seperti saham, reksa dana, dan properti lebih sesuai untuk investasi jangka panjang.

Cerita Guru Les Privat yang Jadi Investor

Keuntungan dari berinvestasi juga dirasakan oleh salah satu guru les privat di Jakarta Timur, Dwi Darmawan (24). Dwi mengatakan dirinya baru mencicipi investasi ritel sejak awal Januari lalu. Sebagai pemula, dirinya menjajal berbagai macam instrumen mulai dari saham, reksa dana, surat berharga nasional, hingga emas.

"Dulu kan suka manjain diri beli gadget (gawai), fesyen, dan lain-lain. Sekarang mulai quarter life crisis, kepikiran terus gimana ya beli rumah nanti? Ya sudah sekarang nyicil-nyicil investasi saja dulu," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (21/9/2020).

Tiap bulan, Dwi menyisihkan Rp 1-2 juta untuk investasi. Dia juga lebih memilih platform digital karena kepraktisannya. Cukup di dalam genggaman, ia bisa berinvestasi kapan saja dan di mana saja. Dalam memilih platform digital, Dwi mempertimbangkan rekam jejak dan aspek keramahan terhadap pengguna.

Kini, Dwi memegang portofolio investasi yang didominasi oleh emas, baik fisik maupun non fisik. Tiap bulan ia membeli 0,5-1 gram emas bersertifikat LBMA dari PT Aneka Tambang (Antam) Tbk karena bisa diperjualbelikan secara internasional. Sisa anggarannya ia gunakan untuk membeli emas digital karena harganya terjangkau.

"Ketika jatuh-jatuhnya harga saham, ibaratnya emas kayak penahan. Misalnya saham lagi rugi, emas enggak akan goyah dan kekal terhadap fluktuasi harga. Ibaratnya tiap tahun pasti stabil, kalau pun turun enggak drastis," ungkapnya.

Selain emas, Dwi juga memilih jenis reksa dana pasar uang karena menawarkan bunga lebih tinggi dari deposito dan bisa dicairkan kapan saja. Selain itu, keuntungan dan total dana kelolaan yang tinggi bisa menjadi pertimbangannya. Enam bulan pertama sejak berinvestasi, Dwi mengaku masih mendapat imbal hasil yang sedikit. Ia terus bertekad menyisihkan dana investasinya dan yakin investasinya akan berlipat ganda di masa depan.

"Kenapa enggak dari dulu nyadar sejak awal kuliah, ya? Coba kalau dari awal kuliah main reksa dana, mungkin sudah kekumpul puluhan juta," katanya.

Investasi Digital Cukup Mulai Rp 5.000

Kini banyak platform digital yang menawarkan layanan keuangan, salah satunya adalah layanan milik Tokopedia bernama Tokopedia Keuangan. Layanan ini diluncurkan sejak tahun 2016 silam. Di dalam layanan tersebut, Tokopedia menawarkan dua instrumen investasi, yaitu Tokopedia Reksa Dana dan Tokopedia Emas.

Untuk layanan investasi emas digital, Tokopedia menggandeng PT Pegadaian (Persero) yang berpengalaman dalam penyimpanan dan penitipan emas. Pengguna bisa mulai berinvestasi dengan dana minimal Rp 5.000. Selain itu, pengguna juga bisa menabung emas tiap kali bertransaksi melalui marketplace Tokopedia dengan pembulatan minimal Rp 500.

Sedangkan untuk investasi reksa dana digital, Tokopedia bekerja sama dengan Bareksa sebagai agen penjual efek reksa dana (APERD). Terdapat dua produk reksa dana yang ditawarkan Tokopedia, yakni Mandiri Pasar Uang Syariah (MPUSE) dan Syailendra Dana Kas (SDK). Pengguna Tokopedia bisa mulai berinvestasi dengan dana minimal Rp 10.000.

Untuk mekanisme pembayarannya, Tokopedia menyediakan layanan melalui transfer bank, dompet digital, akun virtual, hingga pembayaran di gerai. Total Tokopedia telah memiliki lebih dari 50 saluran pembayaran yang bisa dimanfaatkan pengguna.

Vice President Financial Technology Tokopedia, Vira Widiyasari mengatakan menurut data internal Tokopedia, selama Januari 2019 hingga Juni 2020, transaksi Tokopedia Emas melonjak hampir 30 kali lipat, sedangkan transaksi Tokopedia reksa dana tumbuh hingga 4 kali lipat.

"Dalam situasi yang sulit ini (pandemi), orang makin sadar pentingnya menyiapkan masa depan dan situasi darurat, selalu ada cadangan tabungan yang disisihkan," tandasnya.

(ega/hns)