Gara-gara Pajak, Laba BNI Tahun 2005 Turun Jadi Rp 1,6 T
Selasa, 17 Jan 2006 13:43 WIB
Jakarta - BNI diperkirakan hanya meraih laba Rp 1,6 triliun pada tahun 2005. Angka itu jauh dari perolehan laba tahun 2004 yang mencapai Rp 3,136 triliun. Laba itu turun karena BNI harus membayar pajak yang jumlahnya mencapai 35 persen dari laba."Untuk proyeksi indikatif memang net profit Rp 1,6 triliun. Karena tahun ini sudah mulai bayar pajak. Tahun 2004 laba sekitar Rp 1,6 triliun karena ada yang di-carry over untuk bayar pajak," kata Dirut BNI Sigit Pramono.Hal itu disampaikan dia di sela-sela acara "Wealth Management Conference" di Hotel Four Seasons, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (17/1/2006).Seperti diketahui, pada tahun 2005, bank-bank rekap sudah diharuskan membayar pajak kembali.Namun Sigit menggarisbawahi bahwa pajak tidak menjadi faktor penurunan atau peningkatan kinerja perusahaan. "Karena pajak adalah kewajiban," tegasnya.Menneg BUMN Sugiharto sebelumnya mengatakan, BNI pada tahun 2005 hanya akan meraup untuk Rp 1,6 triliun. Sementara angka NPL diprediksi masih di atas 10 persen.Mengenai penurunan kinerja itu, Sigit mengatakan ada dua penyebabnya. Pertama, perekonomian yang secara umum berat seperti prakiraan harga minyak dan rupiah yang sulit diprediksi sehingga berdampak pada munculnya kesulitan di korporasi."Akibatnya, bank-bank yang portofolio korporasinya besar sangat terkena dampaknya, seperti bank Mandiri dan BNI. Lihat saja Bank Mandiri NPL-nya 24 persen dan BNI untuk September 14 persen," tambahnya.Kedua, penerapan PBI No 7/2/2005 tentang kualitas aktiva produktif atau one obligor concept. "Tapi itu bukan maksud menyalahkan pemerintah, tapi dua hal itu yang paling utama," ujarnya.Namun demikian, BNI berharap kinerjanya tahun 2006 secara rata-rata bisa lebih baik dari tahun 2005. "Semester I-2006 itu kita harus hati-hati tetapi optimis," tandasnya.
(qom/)











































