Uang Beredar Makin Banyak, Tembus Rp 6.742,9 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 27 Okt 2020 10:58 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tinggi pada September 2020 didukung oleh komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi.

Dari keterangan resmi BI M2 pada September 2020 tercatat Rp 6.742,9 triliun tetap tinggi sebesar 12,3% secara year on year, meskipun melambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,3%.

Perkembangan tersebut disebabkan pertumbuhan M1 sebesar 17,6% (yoy). "Lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Agustus 2020 sebesar 19,3% (yoy) dipengaruhi melambatnya simpanan giro Rupiah," tulis pengumuman tersebut, dikutip Selasa (27/10/2020).

Selanjutnya disebutkan pertumbuhan uang kuasi juga melambat, dari 11,5% (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 10,6% (yoy) pada September 2020. Sementara itu, surat berharga selain saham pada September 2020 tercatat kontraksi sebesar 13,9% (yoy), tidak sedalam kontraksi bulan sebelumnya sebesar 18,7% (yoy).

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 pada September 2020 didorong oleh peningkatan ekspansi keuangan pemerintah.

Peningkatan ekspansi keuangan pemerintah tercermin pada pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang mengalami tren peningkatan, dari 65,1% (yoy) pada Agustus 2020 menjadi 76,7% (yoy) pada September 2020.

Selain itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 16,7% (yoy) pada September 2020, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Agustus 2020 sebesar 13,8% (yoy).

"Sementara itu, pertumbuhan kredit pada September 2020 tercatat sebesar -0,4% (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 0,6% (yoy)," tulisnya.

(kil/fdl)