Terbesar Dalam Sejarah! AS Sita Bitcoin Rp 14 Triliun, Ada Apa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 06 Nov 2020 16:06 WIB
A bitcoin (virtual currency) coin placed on Dollar banknotes, next to computer keyboard, is seen in this illustration picture, November 6, 2017. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: Reuters
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat menyita bitcoin senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun (kurs Rp 14.350/US$) di pasar kriminal Silk Road. Bitcoin itu disita oleh Departemen Kehakiman AS dan dinyatakan sebagai penyitaan uang digital atau cryptocurrency terbesar dalam sejarah.

"Silk Road adalah pasar kriminal online paling terkenal pada masanya," kata Pengacara AS David Anderson dari Distrik Utara California, dikutip dari CNBC, Jumat (6/11/2020).

Silk Road merupakan pasar jual beli obat-obatan dan barang ilegal. Di sana transaksinya menggunakan bitcoin dan secara anonim. Pasar penjualan ilegal itu ditutup oleh otoritas federal AS pada 2013. Pendirinya, Ross Ulbricht telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2015.

Bitcoin sejak saat itu menjadi sarana investasi utama dalam beberapa tahun terakhir. Harganya kini naik di atas US$ 15 ribu dan menjadi tertinggi sejak 2018. Cryptocurrency telah meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun ke tahun.

Penyitaan bitcoin itu berasal tadi laporan Analisis blockchain yang berbasis di London, Elliptic yang menyatakan adanya 69.369 bitcoin senilai sekitar US$ 1 miliar telah dipindahkan dari dompet bitcoin, yang memiliki saldo tertinggi keempat di dunia.

Salah Satu Pendiri dan Kepala Ilmuwan Elliptic, Tom Robinson, mengatakan pergerakan bitcoin mungkin mewakili Ulbricht atau vendor Silk Road yang memindahkan dana tersebut. Namun Robinson menjelaskan bahwa itu tidak mungkin bisa terjadi, pasalnya pendiri Ulbricht tengah berada di penjara.

Agensi AS pun melacak dana terlarang tersebut melalui unit Internal Revenue Service (IRS). Menurut pengaduan terdapat 54 transaksi bitcoin baru yang dilakukan oleh Silk Road, yang tampaknya merupakan hasil dari beberapa aktivitas ilegal.

Dalam laporan itu juga menjelaskan, memang sejak dulu Silk Road beroperasi dengan ribuan pengedar narkoba dan penjual ilegal lainnya untuk mendistribusikan obat-obatan terlarang, barang dan jasa yang melanggar hukum kepada lebih dari 100.000 pembeli.

Silk Road memiliki hampir 13.000 daftar untuk obat-obatan terlarang dan lebih banyak yang menawarkan layanan ilegal seperti peretasan komputer dan pembunuhan untuk disewa. Dengan kinerja ilegal itu penjualan total Silk Road mencapai 9,5 juta bitcoin.

Namun, penyitaan itu bisa bersifat sementara. AS masih perlu membuktikan kasusnya di hadapan hakim sebelum dapat menyita dana bitcoin itu untuk selamanya.

(eds/eds)