Bunga Acuan BI Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 11:09 WIB
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan lagi suku bunga acuannya. Kini BI 7 Days Repo Rate turun jadi 5,5%.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75%. Angka ini merupakan yang paling rendah sepanjang sejarah sejak diberlakukannya BI 7 day reverse repo rate.

Dari data BI penggunaan BI-7 Days Repo Rate ini berlaku mulai 19 Agustus 2016. Saat itu bunga acuan berada di level 5,25%. Kemudian terus menurun hingga ke level 4,25% pada 19 April 2018. Lalu merangkak naik ke level 6% pada 15 November 2018.

Namun memasuki 18 Juli 2019, BI kembali memangkas bunga acuan 25bps menjadi 5,75%. Bunga ini terus turun hingga ke level 5% pada 23 Januari 2020.

Selanjutnya bunga kembali dipangkas 25 bps dan menjadi 4,75% pada pengumuman hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI 20 Februari 2020.

Suku bunga acuan kembali turun 25 bps menjadi 4,5% pada 19 Maret 2020. Ini terus bertahan hingga 19 Mei 2020. Pada 18 Juni BI kembali memangkas bunga menjadi 4,25%.

Lalu 16 Juli 2020 BI memangkas lagi bunga acuan menjadi 4% dan ditahan selama 3 kali hingga 13 Oktober. Kemudian pada 19 November BI akhirnya memangkas lagi bunga acuan menjadi 3,75%.

Apa kata bankir soal bunga acuan ini? klik halaman selanjutnya>>>

Ekonom Ryan Kiryanto mengungkapkan angka bunga acuan ini memang yang terendah setelah diberlakukanya BI 7 Day Reverse Repo Rate. Menurut dia, tidak ada risiko yang harus diwaspadai dengan rendahnya suku bunga ini.

"Yang penting semua kebijakan akomodatifnya diimplementasikan dengan baik," kata dia saat dihubungi detikcom, Jumat (20/11/2020).

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan angka 3,75% merupakan yang terendah. Namun ada risiko yang perlu diwaspadai dengan rendahnya bunga ini.

"Utamanya dalah dari sisi aliran modal. Turunnya suku bunga acuan bisa mendorong aliran modal tertahan atau bahan keluar," jelas dia.

Namun menurut Piter hal ini sekarang tidak relatif besar atau bahkan tidak ada karena suku bunga acuan di luar negeri mendekati nol persen.

(kil/fdl)