Dorong Inklusi Keuangan, Alasan Gojek Investasi di Bank Jago

Abu Ubaidillah - detikFinance
Jumat, 18 Des 2020 16:44 WIB
Logo baru Gojek
Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto
Jakarta -

Gojek hari ini mengumumkan di bank berbasis teknologi, Bank Jago. Kini, Gojek menjadi pemegang 22% saham Bank Jago. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari rencana investasi jangka panjang dan kemitraan strategis untuk mempercepat inklusi keuangan di Indonesia.

Co-CEO Gojek, Andre Soelistyo mengatakan kemitraan dengan Bank Jago adalah pencapaian baru bagi Gojek dalam menyediakan berbagai solusi masalah sehari-hari melalui teknologi. Ia juga menyebut kolaborasi ini menjadi awal dari cara baru dalam menawarkan layanan keuangan kepada para pengguna Gojek.

"Melalui kolaborasi ini, kami juga dapat mengembangkan model agar bisa bermitra dengan berbagai institusi perbankan lainnya. Kami ingin terus meningkatkan kerjasama seperti ini, agar aplikasi Gojek dapat semakin menjadi andalan masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan finansial mereka," ujar Andre dalam keterangan tertulis, Jumat (18/12/2020).

Andre mengatakan bank berbasis digital seperti Bank Jago tidak hanya akan memperkuat ekosistem Gojek, namun juga membuka akses yang lebih luas kepada layanan perbankan digital bagi masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi kedua perusahaan untuk mendorong percepatan inklusi keuangan Indonesia.

Melalui kerja sama ini, masyarakat akan semakin mudah mengakses layanan perbankan berkat kolaborasi strategis Gojek dan Bank Jago. Dalam beberapa waktu ke depan, pelanggan Gojek juga bisa membuka rekening Bank Jago melalui aplikasi Gojek sehingga mengelola keuangan menjadi lebih mudah.

Kemudahan akses pada layanan perbankan digital dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, hal ini mengingat Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia dengan jumlah penduduk yang belum memiliki rekening bank (unbanked population) cukup tinggi.

Menurut data World Bank Global Findex 2017 dan 2018, 52% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 95 juta orang belum memiliki rekening bank. Di samping itu, mneurut laporan e-Conomy 2019 Report dari Google, Temasek, dan Bain and Company, lebih dari 47 juta penduduk dewasa Indonesia tidak memiliki akses memadai pada kredit, investasi, dan asuransi.

Namun di sisi lain, penetrasi smartphone di Indonesia mencapai hingga 70-80%. Hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia secara infrastruktur siap untuk perbankan digital.

Sementara itu Direktur Utama Bank Jago, Kharim Siregar mengaatkan pihaknya bagngga dan sangat menanti untuk bekerja sama dengan Gojek yang memiliki jutaan konsumen dan mitra usaha di seluruh Indonesia. Ia juga menyebut kolaborasi bank berbasis teknologi seperti Bank Jago dan super app seperti Gojek merupakan yang pertama di Indonesia.

"Kami akan saling melengkapi karena Bank Jago memiliki pengalaman dan keahlian dalam memahami kebutuhan finansial masyarakat Indonesia," kata Kharim.

Ia juga mengatakan kolaborasi mendalam ini akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan bisa terus menjadikan Indonesia tuan rumah di negeri sendiri. Ia juga menyebut pihaknya akan bekerja sama dengan pemain-pemain ekosistem digital lain.

"Sebagai bank berbasis teknologi yang dirancang khusus dengan sistem API terbuka, kami juga akan bekerja sama dengan pemain-pemain ekosistem digital lain untuk memperluas akses keuangan sekaligus mewujudkan aspirasi kami yaitu, meningkatkan kesempatan tumbuh berjuta insan melalui solusi finansial digital yang berfokus pada kehidupan," imbuhnya.

(ega/hns)