Kaleidoskop

Kredit Perbankan Lesu Dihajar Pandemi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 21:15 WIB
Meski Bank Indonesia sudah memangkas bunga acuan, namun bunga kredit bank masih selangit
Foto: Infografis/Fuad Hasim/detikcom: Bunga bank selangit
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat kredit yang disalurkan oleh perbankan per November 2020 tercatat minus 1,7% secara tahunan. Angka ini lebih dalam jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 0,9%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan ketahanan sistem keuangan masih tetap kuat, meskipun risiko dari meluasnya dampak COVID-19 terhadap stabilitas sistem keuangan terus dicermati.

"Intermediasi dari sektor keuangan masih lemah akibat pertumbuhan kredit yang terbatas sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat dan kehati-hatian perbankan akibat pandemi COVID-19," kata Perry.

Ke depan, intermediasi perbankan diperkirakan akan membaik sejalan dengan prospek perbaikan kinerja korporasi dan pemulihan ekonomi domestik serta konsistensi sinergi kebijakan yang ditempuh.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jika hingga November 2020 perbankan berhasil menyalurkan kredit baru sebesar Rp 146 triliun. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan perusahaan-perusahaan besar cenderung menahan diri untuk melakukan pinjaman modal di bank.

"Sekarang ini lebih banyak pertumbuhan itu dari kredit juga didorong oleh UMKM ya," kata dia (22/12) lalu.

Dia menjelaskan korporasi besar masih mengerem kredit karena sekarang belum menggenjot produksinya secara penuh. Sebab, permintaan konsumen belum begitu tinggi. Jadi jika produksi dipaksa dipacu hingga 100% dapat dipastikan tidak akan terbeli seluruhnya.

"Nah ini adalah irama yang harus bagaimana ini sejalan bahwa produksi juga harus digenjot lebih besar sejalan dengan peningkatan dari konsumsi," sebutnya.

Dia mencontohkan, mulai dari hotel hingga pesawat sudah ada peningkatan dari sisi permintaan tapi belum optimal. Akhirnya pengusaha besar memilih untuk menunggu dan melihat situasi alias wait and see.

"Memang begitu kita masuk kepada perusahaan-perusahaan komersial maupun yang korporat besar ini masih ada nuansa wait and see karena masih belum bisa menggenjot produksinya," jelas Wimboh.

Halaman berikutnya soal kebijakan libur nyicil kredit>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2