Terapkan Strategi Hebat, Laba BNI Tumbuh Selama Pandemi

Yudistira Imandiar - detikFinance
Jumat, 29 Jan 2021 18:44 WIB
Gedung BNI
Foto: dok BNI
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat industri perbankan harus berstrategi agar dapat keluar dari masa krisis. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga performa kinerja perusahaan tetap positif.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI misalnya, berupaya menumbuhkan bisnis pada triwulan terakhir tahun 2020, dengan fokus pada penguatan fundamental perseroan.

Di tahun 2020, BNI berusaha mengelola imbal hasil dari aset-aset pencetak pendapatan perseroan sebaik mungkin. Hasilnya, sepanjang 2020, kredit yang disalurkan sebesar Rp 586,2 triliun atau tumbuh 5,3% YoY.

Di samping itu, pada Kuartal IV 2020 perseroan juga melakukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan komposisi aset dan liabilities, sehingga pengelolaan dana perseroan dapat lebih efektif.

Net Interest Market (NIM) BNI tercatat berada di level 4,5%. Biaya dana (cost of fund) di BNI dilaporkan membaik setiap kuartalnya, terutama pada Kuartal IV - 2020 yang berada pada level 2,0% atau membaik 60 basis poin dari kuartal sebelumnya. Adapun cost of fund pada akhir 2020 turun menjadi 2,6% dari 3,2% di 2019.

Di masa pandemi, BNI merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income sebesar Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2% YoY.

"Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0% YoY dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020," jelas Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini dalam keterangan tertulis, Jumat (29/1/2021).

Novita menyampaikan pencapaian laba bersih sebelum provisi dan pajak penghasilan atau pre-provision operating profit (PPOP) tersebut menambah ruang bagi BNI untuk menyiapkan pencadangan yang memadai guna menghadapi tantangan perekonomian di masa mendatan. Keuntungan tersebut juga memberikan kekuatan untuk meminimalisir volatilitas keuntungan perseroan.

"Dimana pada tahun 2020, BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun disertai dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4% lebih besar dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 133,5%," urai Novita.

(ega/ega)

Tag Terpopuler