Diramal Makin Perkasa, Harga Bitcoin Bisa Tembus Rp 14 Miliar!

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 19 Feb 2021 12:54 WIB
VANCOUVER, BC - OCTOBER 29: Gabriel Scheare uses the worlds first bitcoin ATM on October 29, 2013 at Waves Coffee House in Vancouver, British Columbia. Scheare said he
Foto: Getty Images
Jakarta -

Harga mata uang digital, bitcoin diprediksi akan mencapai US$ 1 juta setara Rp 14 miliar (kurs Rp 14.055) untuk jangka panjang. Itu pun diprediksi akan menjadi mata uang cadangan dunia.

Hal itu diprediksi oleh salah satu pendiri dan mitra di Morgan Creek Digital Assets, Anthony Pompliano. Dia mengungkap mulanya bitcoin akan mencapai US$ 500 ribu terlebih dahulu dan pada akhirnya akan menjadi US$ 1 juta per kepingnya.

"Saya pikir bitcoin pada akhirnya akan naik menjadi mata uang cadangan global. Saya pikir bitcoin pada akhirnya akan jauh lebih besar daripada kapitalisasi pasar emas," katanya, dikutip dari CNBC, Jumat (19/2/2021).

Bitcoin telah melonjak selama beberapa bulan terakhir dan melampaui US$ 50.000 untuk pertama kalinya minggu ini. Mengapa bitcoin menguat? Sejumlah faktor menjadi alasan mengapa bitcoin terus menjadi primadona mata uang digital pertama di dunia.

Pertama, ada partisipasi besar dari investor institusional dan ritel. Perusahaan besar juga semakin terlibat dengan cryptocurrency. Square membeli beberapa bitcoin tahun lalu dan pembuat mobil listrik Elon Musk, Tesla juga membeli sekitar US$ 1,5 miliar dalam bentuk bitcoin.

Selain itu, penurunan suku bunga yang dilakukan bank sentral dunia juga menjadi salah satu faktor bitcoin terus diminati oleh banyak orang. Tidak hanya itu, bank sentral juga membeli aset melalui program pelonggaran kuantitatif untuk membantu meredam pukulan ke ekonomi yang dilanda pandemi COVID-19.

Selanjutnya, bitcoin yang diprediksi dapat mencapai US$ 1 juta didasarkan pada beberapa faktor kelangkaan cryptocurrency yang memiliki batas 21 juta koin, serta sifat teknologi yang terdesentralisasi.

Melonjaknya bitcoin juga disebabkan karena mata uang itu tidak memiliki otoritas pusat yang mengontrolnya. Jaringan bitcoin dikelola oleh penambang yang memproses transaksi. Para penambang ini mengoperasikan sejumlah besar komputer khusus yang diperlukan untuk melakukan proses penambangan bitcoin.

Karena ada banyak penambang yang berbeda, tidak ada satu entitas pun yang dapat mengontrol jaringan. Dan karena komputer yang mereka gunakan seringkali merupakan mesin yang sangat kuat, pendukung bitcoin mengklaim jaringan tersebut adalah salah satu jaringan komputer terkuat di dunia.

Pada bulan Januari, JPMorgan merilis catatan yang menetapkan target harga jangka panjang bitcoin sebesar US$ 146.000 karena bitcoin mulai bersaing dengan emas.

Emas diterima secara luas sebagai aset safe haven di mana investor berkumpul pada saat terjadi perselisihan politik atau gejolak pasar keuangan. Bitcoin sendiri sekarang mulai mengembangkan reputasi seperti itu.

"Bitcoin bersaing dengan emas tradisional, bitcoin adalah bentuk emas digital," Nikolaos Panigirtzoglou, ahli strategi pasar global di JPMorgan.

Dia mengatakan, nilai emas yang dimiliki swasta, semata-mata untuk keperluan investasi, sekitar US$ 2,7 triliun. Jika kapitalisasi pasar bitcoin ingin mencapai itu, bitcoin perlu mencapai harga sekitar US$ 146.000.

Simak Video: Membaca Dampak yang Timbul Usai Elon Musk Investasi ke Bitcoin

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)