Duh! Wawasan Keuangan Orang RI Masih Rendah, Butuh Penjelasan Ekstra

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 19 Mar 2021 13:29 WIB
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan suku bunga penjaminan untuk simpanan rupiah dan valuta asing pada bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Literasi keuangan masyarakat di Indonesia masih rendah. Menurut Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Didik Madiyono hal itu terjadi salah satunya karena kepercayaan masyarakat untuk menjadi nasabah bank rendah.

Menurutnya, di era kemajuan teknologi saat ini, bias informasi di ruang publik apalagi media sosial sangat banyak terjadi. Ia menilai, dibutuhkan penjelasan yang efektif tentang skema penjaminan simpanan dana masyarakat yang ada di bank untuk mendorong adanya literasi keuangan

"Karena itu, komunikasi publik yang efektif tentang skema penjaminan simpanan kepada masyarakat menjadi sangat penting untuk menciptakan kepercayaan publik," kata dia dalam keterangannya, dikutip Jumat (19/3/2021).

Didik mengatakan berdasarkan survei OJK tahun 2019, literasi keuangan di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Karena itu dibutuhkan penjelasan dan edukasi yang lebih mendalam terkait skema, kebijakan dan penjaminan simpanan.

Dia menjelaskan terjadi pergeseran perilaku konsumen pada masa pandemi COVID-19 saat ini, lebih memilih berbagai layanan yang berbasis digital. Terbukti, situasi pandemi meningkatkan ketergantungan konsumen pada layanan berbasis digital. Pada hasil penelitian yang dilakukan Bank Dunia, Google, Temasek, dan Bain & Company menyebut fenomena ini sebagai flight-to-digital.

"Dengan perkembangan teknologi komputerisasi dan digitalisasi, model bisnis perbankan juga terus berkembang. Perkembangan teknologi ini akan mengarah pada perbankan yang lebih efisien, layanan pelanggan yang lebih baik, dan kontribusi yang lebih tinggi bagi perekonomian," jelasnya.

Kemudian di Asia Tenggara, sekitar 1 dari 3 (± 36%) konsumen yang menggunakan layanan digital merupakan konsumen baru selama pandemi. Sekitar 9 dari 10 konsumen yang menggunakan layanan digital baru akan terus menggunakan layanan ini di masa mendatang.

Meskipun mengalami pertumbuhan ekonomi setahun penuh yang negatif di tahun 2020 (yaitu -2.07% YoY), ekonomi berbasis internet Indonesia telah mampu tumbuh dua digit sebesar 11% dari Nilai Pasar Bruto (GMV) pada tahun 2020.

Simak juga 'Utang Tembus Rp 6.000 T, RI Hampir Lampu Merah?':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2