Ekonom Sebut Industri Asuransi RI Banyak Masalah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 27 Mar 2021 22:30 WIB
Business woman showing insurance document over white desk at office
Foto: Getty Images/iStockphoto/eternalcreative
Jakarta -

Masalah di industri asuransi nasional seperti tak pernah usai. Mulai dari masalah premi sampai keagenan yang menjual produk. Paling baru adalah ribuan nasabah Asuransi AIA yang merasa tertipu dengan produk yang mereka beli.

Pasalnya tak ada penjelasan mengenai risiko yang mungkin ditemui di kemudian hari dari agen yang menawarkan. Para nasabah ini menyebut mereka hanya diiming-imingi potensi keuntungan. Peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan industri asuransi memang butuh perombakan secara besar-besaran.

Menurut dia hal ini karena paska-krisis 1998, fokus regulator banyak ke lembaga intermediasi keuangan seperti bank, sementara fokus ke pembenahan tata kelola asuransi relatif tertinggal.

"Itu yang membuat bom-bom atom di bisnis asuransi mulai meledak satu per satu, setelah AJB Bumiputera dan Jiwasraya," kata dia saat dihubungi, Sabtu (27/3/2021).

Dia menyebutkan pembenahan di bisnis asuransi bisa dimulai dari pengelolaan dana nasabah agar tidak menimbulkan fraud atau miss-management, misalnya pencegahan untuk masuk ke investasi yang risikonya tinggi.

Lalu terkait peran agen dan tanggung jawab perusahaan asuransi untuk melindungi calon nasabah dari miss-selling atau kesalahan pada saat penawaran produk.

Apalagi saat ini era digital di mana asuransi mengubah agen manual menjadi pendekatan berbasis online, maka pengawasan model penawaran produk asuransi menjadi urgen.

Lanjut halaman berikutnya.