Kok Bisa Banyak 'Inang-inang' Tukar Uang Jelang Lebaran? Begini Sejarahnya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 16 Mei 2021 10:14 WIB
Inang-inang mulai beroperasi jelang Lebaran
Foto: Vadhia Lidyana
Jakarta -

Ada pemandangan menarik jelang lebaran di ibu kota. Para ibu-ibu di pinggir melayani penukaran uang pecahan kecil atau receh. Belakangan, mereka sering disebut 'inang-inang'.

'Inang-inang' sendiri banyak dijumpai diberbagai wilayah. Namun, yang khas dan sering dijumpai jelang Lebaran berada di Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Sejarawan yang juga Ketua Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengatakan, keberadaan 'inang-inang' sendiri sejauh ini belum ada yang meneliti secara langsung. Namun demikian, ia meyakini keradaanya tak terpisahkan dari kelahiran Bank Indonesia (BI).

Dia menjelaskan, BI sendiri pertama kali lahir di Kawasan Kota Tua. Cikal bakal BI ialah De Javasche Bank yang dibentuk pada 1828.

"Kemunculan inang-inang sendiri memang sejauh ini belum ada yang meneliti secara langsung sejarahnya, tapi sejak nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, menjadi perusahaan Indonesia di tahun 1950 terutama 1953 maka kemudian terjadilah di situ sebagai Bank Indonesia," katanya kepada detikcom, Minggu (16/5/2021).

Pada perkembangannya, Gedung BI yang baru dibangun di Jalan Thamrin pada 1962. Namun, Gedung BI di Kota Tua tetap beroperasi.

Menurutnya, dalam menjalankan tugasnya mendistribusikan uang, BI memiliki keterbatasan waktu. Sebab, BI sendiri tutup pada waktu-waktu tertentu seperti saat hari libur. Hal ini memberi celah bagi inang-inang untuk memberikan alternatif dalam hal jasa penukaran uang.

"Maka inang-inang memberikan alternatif sehingga menjadi menarik masyarakat yang ingin menukarkan uang dengan waktu yang fleksibel," katanya.

"Mereka sudah puluhan tahun, terutama kurang lebih sejak Bank Indonesia berdiri. Menurut saya terutama pada saat Bank Indonesia mulai mencetak Oeang Republik Indonesia atau ORI," tambahnya.

Ia menduga, 'inang-inang' tetap banyak berada di Kota Tua karena di sana merupakan awal lahirnya BI. Ia sendiri tak tahu pasti perjalanan 'inang-inang' yang artinya ibu-ibu dalam bahasa Batak, atau ibu-ibu Batak ini dalam mempelopori penukaran tersebut.

Namun begitu, dia bercerita, inang-inang sendiri awalnya dijalankan oleh para ibu-ibu. Kemudian, muncul juga laki-laki yang juga melayani jasa penukaran uang. Setelah itu, dalam perkembangannya inang-inang sendiri beroperasi dalam kelompok.

"Entah kenapa memang yang mempelopori penukaran atau jasa penukaran, sejak awal memang dipegang oleh saudara kita dari Sumatera Utara sehingga nama inang-inang sendiri artinya atau konotasi ke orang Batak," katanya.

"Dulu kan biasanya perempuan awalnya, tapi belakangan juga muncul laki-laki, dan mereka ini satu sama lain saling kenal. Dan karena uang yang ada di tas-tas mereka sangat berisiko maka mereka berkelompok," sambungnya.

Meski tak secara pasti, dia juga menduga, jasa penukaran yang dipelopori oleh ibu-ibu tersebut sama halnya dengan kebiasaan orang di Sumatera Utara. Dia mengatakan, di sana biasanya para laki-laki mencari komoditas untuk dijual. Sementara, kebanyakan para ibu-ibu menjualnya di pasar. Jadi, kata dia, semangatnya inang-inang ialah sebagai pedagang atau penjual.

"Inang-inang ini kalau dalam bahasa Batak itu artinya ibu-ibu, inang itu artinya ibu. Ibu-ibunya inilah yang menguasai jalanan. Kalau di Medan sendiri ibu-ibu biasanya di pasar sama seperti kita, mostly yang jual di pasar ibu-ibu. Kenapa? Karena si bapaknya yang mencari komoditas, yang membantu nyusun, tapi melayani ibu-ibu," terangnya.

(acd/zlf)