Perjalanan BI Terjun Layani Penukaran Uang Receh di Monas

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 16 Mei 2021 12:01 WIB
Para pengantre menunggu untuk menukar uang recehan di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta, Senin (5/6). Penukaran uang itu difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) beserta 13 bank.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Penukaran uang receh di Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat telah menjadi aktivitas yang rutin jelang Hari Raya Idul Fitri dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya, di sana ada mobil-mobil dari bank yang terparkir guna melayani penukaran uang receh masyarakat.

Kegiatan penukaran uang receh tersebut digelar oleh Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan perbankan. Namun, tahun ini ditiadakan karena adanya pandemi COVID-19.

Kepala Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia (BI) Marlison Hakim menjelaskan, aktivitas penukaran uang receh di Monas dimulai sejak tahun 2011. Dia menjelaskan, dalam penukaran uang receh biasanya BI memberikan pelayanan di kantor BI maupun di luar kantor BI.

"Kegiatan layanan penukaran uang oleh BI di Monas sejak 2011 atau 10 tahun yang lalu. Bank Indonesia dalam melayani penukaran uang dalam rangka Idul Fitri dilakukan di dalam kantor di BI dan di luar kantor," terangnya kepada detikcom, Minggu (16/5/2021).

Di luar kantor, BI melayani kegiatan kas keliling secara ritel di area publik seperti terminal, bandara, pusat perbelanjaan, rest area termasuk Monas. Selain itu, BI bekerja sama dengan perbankan memberikan layanan secara wholesale kepada lembaga, institusi dan korporasi.

"Sejak tahun dengan adanya COVID dan tahun ini BI hanya tidak melakukan kegiatan ritel, hanya melakukan layanan wholesale melalui perbankan dan lembaga/institusi," katanya.

Ia pun menjelaskan, layanan penukaran uang dengan pecahan tertentu diberikan oleh BI menimbang kebutuhan masyarakat. Dia mengatakan, kebutuhan uang saat Ramadan dan Lebaran biasanya sangat tinggi.

Menurut catatannya, kebutuhan uang itu pada momen itu tertinggi dalam setahun dengan rata-rata mencapai 30%. Selain itu, kebutuhannya pun lebih bervariasi.

"Pecahannya pun agak lebih bervariasi di mana uang pecahan besar, istilahnya kita yang Rp 100 ribu, Rp 50 ribu tetap tinggi 90% tapi permintaan uang kecil Rp 50 ribu ke bawah meningkat bisa sampai 10%," katanya.

Lanjut baca berita selengkapnya >>>