BI Akui Rupiah Masih Kemurahan, Kapan Menguatnya?

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 02 Jun 2021 13:37 WIB
Pekerja merapihkan uang Dollar dan Rupiah di Cash Center BRI Pusat, Jakarta, Kamis (5/6/2014). Nilai tukar rupiah hingga penutupan perdagangan sore pekan ini hampir menyentuh angka Rp 12.000 per-dollar US.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mengakui nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih undervalued alias lebih rendah dari nilai wajarnya. Saat ini nilainya bergerak di rentang Rp 14.200/US$.

Meski begitu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih ada potensi penguatan.

"Apakah nilai tukar kita masih undervalued secara fundamental? Iya, karena inflasi kita rendah, defisit transaksi berjalan rendah, dan juga ekonomi kita yang membaik," kata Perry dalam rapat kerja dengan komisi XI DPR RI, Rabu (2/6/2021).

Tekanan yang dialami rupiah belakangan waktu dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Di sisi lain ada kenaikan yield US treasury sejak awal tahun akibat akselerasi pertumbuhan ekonomi di AS. "Tentu saja ada potensi-potensi nilai tukar kita menguat, namun juga ada ketidakpastian dan risiko tekanan nilai tukar dari sisi global," ujarnya.

BI memproyeksikan rupiah tahun ini berada di level Rp 14.200 - Rp 14.600 per dolar AS dan tahun depan diproyeksi menguat ke level Rp 14.100 - Rp 14.500 per dolar AS.

"Kami terus akan lakukan stabilitas nilai tukar rupiah ini dan ini didukung oleh cadangan devisa kami yang akhir bulan lalu US$ 138,8 miliar," tuturnya.

Sementara itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini 4,1-5,1% dan tahun depan di level 5-5,5%. Inflasi masih terkendali dengan 2-4% pada tahun ini dan tahun depan.

Tonton juga Video: Dolar AS 'Perkasa' Tapi Dibungkam Rupiah

[Gambas:Video 20detik]




(aid/fdl)