Bisnis Belum Bangkit, Duit Pengusaha Masih Numpuk di Bank

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Sabtu, 03 Jul 2021 07:30 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Dunia usaha belum sepenuhnya mengalami perbaikan. Hal ini tercermin dari kondisi likuiditas di perbankan yang melimpah.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makrorudensial Bank Indonesia (BI) Juda Agung menjelaskan, melimpahnya likuiditas menjadi tanda jika perusahaan belum melakukan investasi. Melimpahnya likuiditas tercermin dari dana pihak ketiga (DPK) korporasi yang naik signifikan.

"Kalau kita lihat ini sebenarnya belum semua korporasi mengalami perbaikan kinerja.Tercermin dari apa, likuiditas masih melimpah, dalam arti kalau dia tidak melakukan investasi, operasionalnya masih terbatas tentu saja dia masih menumpuk likuiditas di perbankan," ujarnya, Jumat (2/7/2021).

"Tercermin dari DPK korporasi tumbuh cukup signifikan, bahkan sangat signifikan," tambahnya.

Dia mengatakan, DPK korporasi tumbuh 14,07% (yoy) pada April dan di Mei tumbuh 18,16% (yoy). Lebih rinci, untuk tabungan mengalami pertumbuhan 25,86%, deposito tumbuh 17,59%, dan giro 17,53%.

Dia menambahkan, kebutuhan likuiditas masih sangat terbatas pada saat ini seperti pada industri makanan minuman, otomotif, dan perkayuan.

"Kalau lihat tabungan itu tumbuhnya 25% dan juga deposito dan giro sekitar 17%, ya ini menunjukkan kebutuhan likuiditas masih sangat terbatas dari korporasi kecuali untuk sektor-sektor yang memang sudah bergerak seperti industri makanan minuman, otomotif, industri perkayuan ini ada kebutuhan untuk meng-create modal kerja terutama karena memang investasi belum terlalu perlu dalam kondisi seperti sekarang," paparnya.

(acd/ara)