Nasabah Asuransi Protes Imbal Hasil Melorot, Ini Biang Keroknya

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 08 Jul 2021 16:25 WIB
Business woman showing insurance document over white desk at office
Foto: Getty Images/iStockphoto/eternalcreative
Jakarta -

Ramai di media sosial terkait postingan nasabah yang kecewa mendapati imbal hasil produk asuransi investasi tak sesuai yang dijanjikan. Menurut pengamat asuransi Irvan Rahardjo, masalah semacam itu memang kerap terjadi.

"Kalau itu melalui agen ya terutama, itu kan sudah marak ya, banyak asuransi yang dikeluhkan tidak sesuai dengan skenario atau ilustrasi yang diberikan sejak awal, itu terutama kalau melibatkan agen," kata dia kepada detikcom, Kamis (8/7/2021).

Dia menjelaskan masalah semacam itu paling sering dialami oleh nasabah asuransi unit link, yakni produk campuran asuransi dan investasi.

Agen asuransi unit link, dijelaskannya kerap kali hanya menjelaskan kepada calon nasabah mengenai ilustrasi positif atau skenario terbaik saja, yang mana tampak sangat menggiurkan.

"Padahal kalau dalam hal investasi kan selalu ada unsur spekulasi, ada untung atau rugi," sebutnya.

Dijelaskannya, investasi bisa menguntungkan tapi juga bisa sebaliknya. Sebab, perusahaan asuransi menempatkan dana nasabah di berbagai instrumen, mulai dari saham hingga deposito yang semua berfluktuasi. Sayangnya agen asuransi jarang menjelaskan hal semacam itu.

"Tapi yang tidak dijelaskan oleh agen itu adalah kemungkinan dia bisa turun. Itu namanya miss selling. Tapi juga ada peran asuransi terutama oleh asosiasi yang tidak cukup menjelaskan tentang produk-produk unit link itu bisa gain bisa loss, bisa rugi bisa untung," ujar Irvan.

Apa yang dilakukan oleh agen asuransi itu memang tak bisa dikatakan penipuan. Tapi yang mereka lakukan tetap saja tak dapat dibenarkan karena tidak fair dan transparan.

"Nah, kalau agen itu karena memang agen itu kan mendapatkan income (pemasukan) dari perolehan premi, dari perburuan nasabah sehingga makin banyak nasabah makin besar income-nya, sehingga dia melupakan etika, melupakan profesionalisme, dia mengejar premi atau komisi saja," tambahnya.

Lihat juga video 'Bisakah Tuntut Asuransi Gegara Premi Diubah Sepihak?':

[Gambas:Video 20detik]



(toy/ara)