Menanti Keputusan BI Tetapkan Bunga Acuan, Naik atau Turun Ya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 22 Jul 2021 09:33 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, Logo Bank Indonesia, bank indonesia, ilustrasi uang, penukaran uang, ilustrasi penukaran uang
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Hari ini Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) bulanan. Kebijakan suku bunga acuan BI jadi salah satu yang juga akan diumumkan.

Kalangan ekonom memproyeksi bank sentral akan menahan suku bunga acuan di level 3,5%.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan memang saat ini perekonomian nasional dan sektor keuangan sedang tertekan gelombang varian delta yang membuat pemerintah mengambil langkah PPKM Darurat.

Menurut dia di tengah kondisi seperti sekarang kebijakan moneter diharapkan tidak menambah kompleksnya permasalahan. "Kalau BI menaikkan suku bunga pasti akan ada tambahan tekanan ke perekonomian dan sektor keuangan. BI saya kira sangat memahami hal ini. Sementara di sisi lain BI juga belum ada kebutuhan kuat untuk menaikkan suku bunga," kata Piter saat dihubungi, Kamis (22/7/2021).

Dia menjelaskan apalagi kondisi inflasi masih terjaga, rupiah relatif stabil meskipun terus ada tekanan pelemahan. Menurut dia alasan paling mungkin BI menaikkan bunga adalah jika The Fed melakukan tapering. Namun dia meyakini hal tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

Jadi bunga acuan diprediksi tetap 3,5% dan turun tidak mungkin. "Mempertahankan suku bunga akan dimaksudkan oleh BI untuk mendukung perekonomian yang saat ini dalam tekanan selama PPKM darurat," jelas dia.

Ekonom PermataBank Josua Pardede mengungkapkan BI diperkirakan akan mempertahankan bunga acuan di level 3,5%.

Hal ini karena bunga acuan BI masih konsisten dalam menjangkar ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas rupiah.

"Inflasi diperkirakan akan tetap rendah mengingat aktivitas ekonomi pada kuartal III 2021 diperkirakan akan cenderung lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebagai dampak dari pemberlakuan PPKM darurat di Jawa-Bali," ujarnya.

Sementara itu, meskipun secara keseluruhan nilai tukar rupiah cenderung stabil dalam jangka pendek ini, sentimen risk-off cenderung berkembang dalam beberapa waktu terakhir yang dipicu oleh tren kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara termasuk Indonesia. Berpotensi menurunkan ekspektasi pemulihan ekonomi global yang diperkirakan akan cukup signifikan.



Simak Video "BI: Kripto Bukan Alat Pembayaran Sah, Lembaga Keuangan Dilarang Pakai!"
[Gambas:Video 20detik]