Tekan Inflasi, Bank Sentral Eropa Masih Ogah Naikkan Suku Bunga

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 23 Jul 2021 08:31 WIB
Bank Sentral Eropa Luncurkan Paket Ekonomi Darurat Pandemi Corona
Foto: DW (News)
Jakarta -

Bank Sentral Eropa mengisyaratkan akan mempertahankan suku bunga tetap rendah dalam rentang waktu yang cukup lama. Hal itu terjadi karena para bankir berencana akan menambah stimulus triliunan Euro demi merangsang ekonomi. Suku bunga disebut akan tetap rendah hingga Bank Sentral yakin inflasi bisa mencapai level 2%.

"ECB membiarkan pengaturan kebijakannya tidak berubah dan akan bertahan dengan kebijakan ultra-longgar lebih lama dari yang tersirat oleh pernyataan sebelumnya tidak akan mengejutkan investor," kata Andrew Kenningham, kepala ekonom Eropa di Capital Economics, dilansir dari CNN, Jumat (23/7/2021).

Seperti diketahui Bank Sentral Eropa baru mengumumkan awal bulan ini mereka telah meninggalkan kebijakan lamanya yang menargetkan inflasi di bawah 2%. Kini mereka menargetkan mendekati, 2%. Hal ini menurut banyak investor dan ekonom cukup membingungkan.

Perubahan itu terjadi ketika Bank Sentral terus membeli obligasi sebagai bagian dari upaya stimulus besar-besaran. Seberapa besar? Bank Sentral telah membeli obligasi senilai US$1,4 triliun sejak Maret 2020 sebagai bagian dari program tanggap darurat pandemi.

Bahkan masih lebih banyak lagi pembelian yang sedang dalam perjalanan. Bank sentral terus mengambil obligasi pada tingkat US$ 94 miliar per bulan atas nama bantuan pandemi.

Ekonom berharap Bank Sentral juga memperhatikan masa depan program pembelian obligasi setelah pertemuan Bank Sentral Eropa pada bulan September atau Desember.

Analis Barclays berharap Bank Sentral untuk mengakhiri program pembelian obligasi pandemi pada Maret 2022, dengan asumsi bahwa lonjakan baru dalam kasus virus corona tidak mengirim negara kembali ke lockdown yang sangat ketat.

"Kami memperkirakan suku bunga kebijakan akan tetap pada level saat ini dan pembelian Bank Sentral akan berlanjut dalam beberapa bentuk setidaknya hingga akhir 2023," kata para analis Barclays.

(hal/fdl)