Bahaya Mengintai di Balik Bengkaknya Tabungan 'Mengendap' di Bank

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 03 Agu 2021 11:02 WIB
Petugas menyusun uang di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Jumat (17/6/2016). Bank BUMN tersebut menyiapkan lebih dari 16.200 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk melayani kebutuhan uang tunai saat lebaran. BNI memastikan memenuhi seluruh kebutuhan uang tunai yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 62 triliun atau naik 8% dari realisasi tahun sebelumnya. (Foto: Rachman Harryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah membuat dana masyarakat di perbankan semakin membengkak. Sementara roda ekonomi yang melambat membuat dana itu pun sulit disalurkan kembali oleh bank dalam bentuk kredit. Ternyata ada bahaya lanjutan dari fenomena tersebut.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan, bengkaknya dana tabungan masyarakat di perbankan itu tentu karena pembatasan aktivitas masyarakat. Selain masyarakat tak bisa mengeluarkan uangnya untuk kegiatan hiburan, mereka juga takut menghamburkan uangnya.

"Kita mempunyai keterbatasan untuk berbelanja, apapun yang melakukan kegiatan fisik, terutama kegiatan leisure seperti yang kita lakukan bersama keluarga. Sehingga masyarakat yang pendapatannya tetap tidak dapat membelanjakan, sehingga tabungannya pasti meningkat," terangnya dalam Virtual Opening Like It (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan), Selasa (3/8/2021).

Wimboh juga yakin dana masyarakat di perbankan juga bertambah seiring dengan kucuran insentif yang diberikan pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Tahun lalu anggaran PEN mencapai Rp 695 triliun dan tahun ini Rp 744 triliun.

"Luar biasa, ini pasti menambah uang beredar di masyarakat dan juga menambah dana masyarakat di perbankan. Untuk itu tidak heran dana di perbankan melimpah, pertumbuhannya year on year di Juli kemarin 11,28 %. Sebelum covid pertumbuhan dana masyarakat itu hanya 6-7%," terangnya.

Nah masalahnya adalah, ketika likuiditas perbankan berlimpah seperti sekarang ini maka akan mempengaruhi suku bunga simpanan yang terus menurun. Wimboh menjelaskan biasanya suku bunga deposito berjangka 1 tahun sekitar 7%, namun sekarang hanya 5%, bahkan ada yang di bawah 4%.

Tentu dengan jumlah uang yang meningkat tapi suku bunganya turun, masyarakat mencari alternatif instrumen lain yang memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Alhasil tawaran instrumen investasi belakangan ini semakin berlimpah.