ADVERTISEMENT

Bos BCA Ramal di Masa Depan Bank Digital RI Cuma Sisa 3

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 12 Agu 2021 11:25 WIB
Fintech
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis Zaki Alfarabi
Jakarta -

Perkembangan teknologi saat ini telah membawa kehidupan menjadi serba digital. Sektor keuangan termasuk hal yang tak luput dari digitalisasi. Sejumlah bank digital bahkan telah lahir dan menjadi tren di beberapa negara di dunia termasuk Indonesia.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Jahja Setiaatmadja sendiri memprediksi hanya akan ada tiga bank digital di Indonesia. Hal ini disampaikan Jahja berdasarkan analisisnya terhadap kondisi perbankan di Indonesia serta kondisi bank digital di sejumlah negara.

Melansir CNBC Indonesia, Kamis (12/8/2021), Jahja menyebutkan di era liberalisasi perbankan swasta tahun 1988, mantan menteri keuangan JB Sumarlin melakukan pembebasan perizinan bank dan membuat tahun 1900-an Indonesia memiliki sebanyak 200 bank. Namun akhirnya jumlah itu menurun tajam saat krisis moneter menghantam Indonesia tahun 1998.

"Awal tahun 1990, kita punya 200 bank lebih, apa yang terjadi 1998, secara alam terfilterisasi, sehingga sekarang mungkin bank-bank besar 7-8 bank sudah menguasai sekitar 60-70% dari market share. Jadi, bank digital juga demikian saya pikir, hanya tiga yang punya kemampuan untuk berlanjut," jelas Jahja dalam wawancara dengan CNBC Indonesia di program Money Talks.

Di sejumlah negara dunia pun, bank digital yang saat ini dikatakan berhasil bisa dihitung dengan jari. Jahja mencontohkan Korea Selatan yang memiliki pendapatan per kapita mencapai US$33,790 tahun 2019 lalu, sekarang hanya memiliki satu bank digital dan sudah mencatatkan keuntungan yaitu KakaoBank.

"Di Jepang ada Rakuten, income perkapita tinggi sekali tapi hanya ada 1-2 bank yang berhasil. Thailand, ada satu. Artinya, di setiap negara, at the end of the day (pada akhirnya), itu enggak akan lebih dari tiga, menurut saya," kata Jahja.

Menurut Jahja, tren bank digital ini merupakan sebuah keniscayaan, terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup generasi muda saat ini. Kelompok usia tersebut menginginkan layanan perbankan yang mudah serta instan.

Dengan fakta tersebut lahirlah sejumlah bank digital di Indonesia. BCA juga memiliki bank digital sendiri yang berfokus pada segmen anak muda.

"Memang kaum milenial ini ingin yang instan, ini terpenuhi dengan munculnya nama-nama bank dengan predikat digital," ungkap Jahja.

Karenanya, Jahja menjelaskan kalau ke depannya bank digital BCA akan disiapkan untuk melantai di bursa saham. Ini harus teruji secara fundamental agar menarik bagi para investor.

"Namanya investasi dalam saham, ini bicara jangka panjang, enggak bicara sebulan-dua bulan, setahun dua tahun, tapi akan forever (selamanya). Nah, ujung-ujungnya kalau sudah forever, ya performance (kinerja)," kata Jahja.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT