Gonjang-ganjing Tapering, Apa Sih Itu?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 23 Agu 2021 14:08 WIB
Jakarta -

Tapering, belakangan ini menjadi kata yang sering dibahas di dunia keuangan. Kata itu pula yang belakangan ini mampu memberikan guncangan ke sektor keuangan dan dunia investasi. Apa sih sebenarnya tapering itu?

Melansir Investopedia, Senin (23/8/2021) tapering merupakan salah satu senjata yang dimiliki bank sentral sebuah negara. Senjata itu akan menjadi menyeramkan jika yang menggunakan adalah bank sentral negara besar seperti Federal Reserve di Amerika Serikat (AS), karena dampaknya akan merembet kemana-mana.

Tapering sendiri merupakan kebijakan dari bank sentral yang mengurangi pembelian aset seperti obligasi (surat utang). Kebijakan ini merupakan kebalikan dari senjata yang namanya pelonggaran quantitative easing (QE).

The Fed sendiri sudah melakukan pelonggaran untuk merangsang ekonomi AS yang sebelumnya loyo dihantam pandemi COVID-19. Kebijakan yang dilakukan di antaranya penurunan suku bunga dan melakukan 'pencetakan uang' dengan membeli US treasury hingga mencapai US$ 120 miliar per bulannya.

Nah ketika kebijakan itu sudah berhasil dan ekonomi mulai membaik, untuk mencegah mesin ekonomi terlalu panas maka tapering dilakukan.

Perbaikan ekonomi di AS sendiri sudah mulai terlihat. Tercermin dari inflasi yang sudah meningkat dan yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga merangkak naik.

Lalu kenapa hal itu menjadi heboh?

Ya tentu saja. Jika terjadi taper tantrum, investor-investor dunia yang memiliki uang jumbo akan menarik uangnya yang mereka sebar ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Alasannya sederhana, yang namanya investor pasti berburu cuan. Nah ketika taper tantrum, penempatan uangnya di AS akan lebih menguntungkan bagi mereka. Sebab suku bunga acuan AS akan naik.

Ketika dana asing keluar dari Indonesia dalam jumlah besar dan terus menerus, sudah pasti akan mengguncangkan dunia investasi dan keuangan di dalam negeri. Sebab ketika para investor global yang menarik uangnya dari Indonesia, mereka membutuhkan dolar AS yang besar.

Jika permintaan dolar AS meningkat signifikan, maka nilainya akan naik dan rupiah yang kita cintai akan semakin lemah. Ngerinya lagi, psikologis pelaku pasar akan ikut panik.

(das/fdl)