Tapering Bikin Heboh, Apa Dampaknya Buat Wong Cilik?

ADVERTISEMENT

Tapering Bikin Heboh, Apa Dampaknya Buat Wong Cilik?

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 24 Agu 2021 07:08 WIB
Seorang petugas menata uang dollar di Jakarta, Senin (30/6/2014). Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap rupiah sehingga mendorong minat masyarakat untuk berburu mata uang negeri Paman Sam ini.
Tapering Bikin Heboh, Apa Dampaknya Buat Wong Cilik?
Jakarta -

Tapering menjadi kabar yang menghebohkan dunia keuangan dan investasi. Banyak pihak terutama para investor membahas tapering yang dianggap sebagai sosok yang menakutkan.

Mungkin buat rakyat kecil tak peduli dengan yang namanya tapering. Dianggap itu hanya urusan orang gedongan. Eits jangan salah, tapering ini juga bisa berdampak ke kita-kita wong cilik.

Melansir Investopedia, Senin (23/8) tapering merupakan kebijakan dari bank sentral yang mengurangi pembelian aset seperti obligasi (surat utang). Kebijakan ini merupakan kebalikan dari kebijakan yang namanya pelonggaran quantitative easing (QE).

Bank sentral AS, The Fed sendiri sudah melakukan pelonggaran untuk merangsang ekonomi AS yang sebelumnya loyo dihantam pandemi COVID-19. Kebijakan yang dilakukan di antaranya penurunan suku bunga dan melakukan 'pencetakan uang' dengan membeli US treasury hingga mencapai US$ 120 miliar per bulannya.

Nah ketika kebijakan itu sudah berhasil dan ekonomi mulai membaik, untuk mencegah mesin ekonomi terlalu panas maka tapering dilakukan. Bank sentral akan mengurangi suntikan uang ke pasar dan akan menaikkan suku bunga acuan.

Jika itu terjadi maka para investor dunia yang memiliki uang jumbo akan menarik uangnya yang mereka sebar ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka akan kembali menempatkan uangnya di AS karena dianggap menguntungkan.

Nah ketika dana asing keluar dalam jumlah yang besar dampaknya bisa menjalar kemana-mana. Pertama jika keluar dari pasar modal, maka saham-saham akan berjatuhan. Orang-orang gedongan yang punya investasi di pasar modal ataupun instrumen yang berkaitan dengan pasar modal pasti khawatir.

Kedua, ketika ketika para investor global yang menarik uangnya dari RI, mereka membutuhkan dolar AS yang besar. Jika permintaan dolar AS meningkat signifikan, maka nilainya akan naik dan rupiah yang kita cintai akan semakin lemah.

Nah inilah yang mungkin akan berdampak buat wong cilik. Sebab Indonesia masih sebagai negara yang bergantung pada impor. Jika rupiah loyo, maka barang-barang hasil impor maupun barang-barang yang bahan bakunya didatangkan dari luar negeri kemungkinan akan ikut naik.

Lihat juga Video: Harga Emas Masih Loyo Minggu Ini

[Gambas:Video 20detik]



(das/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT