Singapura Pernah Punya Uang SGD 10.000, Sering Dipakai Pencucian Uang

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 03 Sep 2021 12:52 WIB
Dolar Singapura
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Jepang mencetak ulang uang kertas 10.000 yen. Peresmian sekaligus pencetakan pertama ini dilakukan Rabu (1/9) kemarin oleh Menteri Keuangan Jepang Taro Aso.

Berbicara tentang uang pecahan 10.000, namun tahukah kamu kalau sebelumnya Singapura sempat memiliki uang dengan pecahan yang sama. Hanya saja pecahan tersebut sering disalahgunakan oleh sejumlah orang/organisasi tertentu.

Oleh sebab itu, pemerintah Singapura sudah lama menghentikan pencetakan dan penggunaan uang dengan pecahan 10.000. Bahkan pada November 2020, pemerintah Singapura juga berhenti mencetak dolar Singapura pecahan SGD 1.000.

Hal itu dilakukan untuk menghindari risiko penggunaan uang dalam tindak korupsi, terorisme, narkoba, pencucian uang hingga kejahatan uang lainnya. Dalam catatan detikcom, pecahan ini kerap kali menjadi alat penyuapan dalam sejumlah kasus tindak pidana korupsi di Indonesia.

Akhirnya melalui pernyataan Deputy Managing Director Monetary Authority of Singapore (MAS) Ong Chong Tee, Negeri Singa tidak akan lagi mencetak pecahan 10.000 dolar Singapura mulai 1 Oktober 2014. Pernyataan tersebut muncul kala Ong memberi ceramah di acara Financial Crime Seminar pada 2 Juli 2014.

Sejumlah kasus korupsi di RI yang diketahui menggunakan transaksi uang pecahan 10.000 dan 1.000 dolar Singapura salah satunya pada kasus Bupati Biak Numfor Yesaya Sombuk dan 5 orang lainnya yang ditangkap di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 18 Juni 2014.

Dalam operasi tangkap tangan tersebut, KPK mendapati uang yang berjumlah sekitar 100.000 dolar Singapura. Uang itu terbagi dalam pecahan 10.000 dan 1.000 dolar Singapura.

Selain itu, dalam kasus suap Akil Mochtar (Mantan Ketua MK) dan Rudi Rubiadini (Mantan Kepala SKK Migas) didapat transaksinya menggunakan uang pecahan 10.000 dolar Singapura.

(ara/ara)