Year in Review 2021

Holding Ultra Mikro, Harapan UMKM Naik Kelas

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 02 Jan 2022 12:01 WIB
Khoirul Mutaqin (33) belajar membuat topeng secara autodidak hingga akhirnya menjadi pekerjaannya. Namun selama pandemi ini, pesanan topeng sepi. Saat ditemui detikcom di rumahnya Dusun Wonolelo RT 04/RW 09, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dia tengah menatah untuk membuat topeng.
Ilustrasi umkm/Foto: Eko Susanto

Dalam aksi korporasi tersebut hanya dilakukan akuisisi, tidak ada merger yang terjadi. Untuk itu, masing-masing perusahaan tetap berada pada core business-nya dan pegawai pun tidak ada yang terdampak.

Berdasarkan prospektus yang beredar, kala itu perseroan mengumumkan harga pelaksanaan untuk penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) sebesar Rp 3.400 per saham dengan rasio 100:23. Artinya, setiap 100 lembar saham yang dimiliki, investor punya right 23 HMETD.

Selanjutnya, dalam right issue ini manajemen BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,21 miliar lembar saham baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah PMHMETD I.

Saham baru yang ditawarkan merupakan yang berasal dari portepel perseroan dan seluruhnya ada di BEI (Bursa Efek Indonesia). Hal ini tentunya memperhatikan aturan dan sesuai dengan PP No. 29 tahun 1999, yakni 1 % dari jumlah saham milik perseroan yang beredar tidak dicatatkan di BEI.

Dalam right issue ini, dana segar yang diraup dari publik melalui right issue ini diperkirakan mencapai Rp 41,15 triliun. Jika diakumulasi dengan dana inbreng, maka optimalisasi right issue BRI bisa bernilai Rp 96 triliun, hal ini menjadikan right issue BRI terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Demikian dikatakan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Diardi kala Opening Rights Issue BRI pada Rabu 29 September lalu.

"Rights issue ini mencatatkan sejarah baru dalam pasar modal Indonesia di mana dengan jumlah HMETD yang telah di-exercise mencapai 28,2 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp 96 triliun," katanya.

Dia mengatakan, rights issue BRI tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia dan tertinggi di Asia Tenggara.

"Rights issue yang dilakukan oleh BBRI tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia, tertinggi di kawasan Asia Tenggara, serta menduduki peringkat 3 tertinggi di Asia, dan masuk 7 besar di seluruh dunia sejak 2009," katanya.

Manfaat Pembentukan Holding

Pembentukan holding ultra mikro akan memberikan dampak, baik bagi nasabah hingga negara. Bagi negara, pembentukan holding akan menghasilkan data untuk kebijakan pemerintah.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso menjelaskan dalam menghadapi berbagai kesulitan, pemerintah memberikan stimulus kepada masyarakat.

Setidaknya ada empat komponen dalam penyaluran stimulus ini, yaitu anggaran, data, saluran yang bisa diandalkan dan dipercaya, serta komunikator yang bisa menjelaskan terkait stimulus.

"Maka kemudian bagi kami value yang bisa kita create dengan holding ultra mikro ini maka sesungguhnya kita akan mengintegrasikan data yang bisa dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan-keputusan besar di negeri ini," katanya dalam acara Opening Bell Rights Issue BRI, Rabu (29/9/2021).

Bagi nasabah, pembentukan holding ultra mikro akan berdampak pada layanan yang semakin banyak dan semurah mungkin. Lalu, bagi karyawan akan memberikan kesempatan yang luas untuk pengembangan karier.

"Kemudian untuk karyawan, stakeholder yang bernama karyawan, pekerja, pegawai saya kira dengan pembentukan holding ini akan memberikan kesempatan untuk menumbuhkembangkan kariernya secara optimal sesuai dengan potensinya masing-masing," katanya.

Selanjutnya, pemegang saham akan menerima manfaat yakni sumber pertumbuhan yang baru di masa depan.

"Terakhir stakeholder yang bernama pemerintah, value creation ini akan menciptakan economic value yang bagi pemerintah karena sebagai pemegang saham juga bisa akan diambil, dikontribusikan dalam bentuk dividen kah atau pajak," katanya.



Simak Video "Year In Review 2021: Kilas Balik Penanganan COVID-19 di 2021"
[Gambas:Video 20detik]

(aid/zlf)