Year In Review 2021

BNI Mau Tambah Kantor di Luar Negeri, Negara Mana yang Diincar?

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 10 Jan 2022 16:30 WIB
Suasana layanan di lokasi baru Kantor Cabang BNI Seoul (Dok. BNI)
Foto: Dok. BNI
Jakarta -

Pandemi tak jadi penghalang bagi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) untuk memperluas jaringan internasional dan mengoptimalkan layanan bisnisnya di luar negeri. Bahkan, BNI diketahui tengah menggarap rencana ekspansif ke beberapa negara.

Sebagaimana diketahui, BNI adalah bank BUMN yang dimandatkan pemerintah untuk menggarap bisnis international banking sekaligus digital banking. Dengan modal kantor cabang luar negeri di berbagai negara, BNI pun diharapkan bisa bekerja sama dengan berbagai kalangan pengusaha dalam negeri untuk memperluas ekspansi ke luar negeri.

Dengan kemampuan tersebut, BNI dapat pula menjadi investment advisor strategis bagi banyak korporasi global untuk menanamkan modal di Tanah Air.

Tercatat, hingga kini BNI memiliki jaringan kantor cabang luar negeri (KCLN) di enam pusat keuangan dunia, antara lain Singapura, Hong Kong, Tokyo dan Osaka - Jepang, New York - Amerika Serikat, Seoul - Korea Selatan, dan London - Inggris. Jumlahnya pun direncanakan akan terus bertambah dengan adanya rencana ekspansif dari BNI.

Pada 2021 lalu, BNI mengungkap akan menambah outlet atau jaringan kantor luar negeri guna memperkuat bisnis internasional. Upaya ini akan dilakukan dengan mendirikan representative office di beberapa negara.

Diketahui, BNI tengah mengkaji pembukaan cabang luar negeri di beberapa negara. Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan pelebaran sayap ke luar negeri ini salah satunya mengincar Amsterdam, Belanda dan juga Los Angeles (LA), Amerika Serikat.

Ia mengatakan pihaknya menargetkan dapat izin dari otoritas setempat di 2021 lalu, sehingga kantor tersebut dapat beroperasi pada 2022 ini.

"Saat ini BNI juga sedang mempersiapkan pembukaan representative office di Amsterdam, ini khususnya untuk menggarap pasar di Eropa, dan Los Angeles untuk meng-cover potensi pasar di pantai barat Amerika dan Kanada," ungkap Novita dalam keterangan tertulis.

"Kami menargetkan izin dari otoritas atau regulator di negara setempat ini dapat kami peroleh pada tahun 2021, sehingga kantor BNI pada lokasi di negara-negara tersebut dapat beroperasi di kuartal I-2022," tambahnya.

Dalam menentukan lokasi, Novita mengungkap pihaknya menerapkan strategi capture the flow dengan melihat transaksi perdagangan, transaksi investasi, hingga diaspora Indonesia.

"Lokasi yang ditentukan tentunya akan menyesuaikan dengan flow transaksi tersebut, karena ini sejalan dengan visi misi BNI dan juga fokus BNI untuk go global," ujar Novita.

Ia pun menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan studi kelayakan saat akan membuka kantor di luar negeri. Selain itu, Novita menjelaskan bahwa pihaknya membutuhkan analisis feasibility study yang lebih mendalam di masing-masing negara yang akan dituju untuk melakukan pengembangan jaringan kantor di luar negeri.

Sementara itu, Direktur Treasury & Internasional BNI, Henry Panjaitan mengatakan rencana pembukaan kantor di sejumlah negara dilakukan dengan melihat peluang dari tren perusahaan Indonesia yang mulai melebarkan sayap ke pasar global. Menurutnya, tak hanya di Amsterdam maupun LA, kota atau negara lain di Asia, Australia dan Timur Tengah juga akan menjadi sasaran BNI selanjutnya.

"Kami memiliki beberapa opsi, dalam dua tahun ke depan kami mengkaji pembukaan di Amsterdam, Frankfurt, Sidney, Timur Tengah, Shanghai atau Beijing. Mudah-mudahan dua tahun ini bisa membangun kantor cabang karena kami melihat ada tren perusahaan Indonesia masuk daerah itu," tutur Henry.

Henry menambahkan seluruh sektor ekonomi akan menjadi target pihaknya, terlebih menurutnya target pertumbuhan BNI akan lebih inklusif.

"BNI sebagai pelopor green banking juga akan terus memperkuat pembiayaan hijau tahun ini. Terlebih banyak nasabah kami yang mulai transformasi sehingga membutuhkan banyak dukungan produk perbankan," sambungnya.

Pertumbuhan Bisnis Perbankan Internasional BNI

Henry menyebutkan bisnis perbankan internasional yang dijalankan BNI difokuskan pada trade finance, jasa remittance, international desk, dan financial institution. Ia mengungkap, pihaknya juga akan mengembangkan platform digital untuk memudahkan nasabah luar negeri dalam mengakses layanan BNI, khususnya dalam transaksi perdagangan dan remitansi.

Lebih lanjut, Henry memaparkan bahwa BNI melakukan penguatan kerja sama dengan perusahaan, asosiasi, hingga fintech yang beroperasi global demi mendukung terciptanya ekosistem bisnis yang produktif. Tak hanya itu, pihaknya juga memanfaatkan platform Xpora untuk mencetak dan membawa pelaku usaha domestik menjadi pemain global, termasuk para pelaku UMKM.

Berdasarkan laporan per 9 Desember 2021, hingga kuartal ketiga 2021 lalu BNI masih terus mencatat pertumbuhan kinerja bisnis internasional. Adapun salah satu pertumbuhan ini tercermin dari volume bisnis trade finance yang tumbuh 45% dengan nominal mendekati US$ 40 miliar.

"Meningkatnya volume tersebut mengatrol pendapatan fee dari bisnis trade hingga 20% yoy. Bisnis international banking yang lain, yaitu remittance hanya tumbuh tipis 1,3% YoY dengan nominal US$ 58 miliar," paparnya.

Ia menambahkan, pandemi yang berkepanjangan serta adanya moratorium pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) ke luar negeri membuat volume kiriman uang PMI secara nasional turun hingga 6,7%.

"Dalam bisnis global payment, BNI telah mengembangkan layanan berbasis digital melalui platform mobile banking untuk nasabah personal dan BNI Direct untuk nasabah korporasi," ungkapnya.

Selain itu, ia mengatakan pihaknya telah menyediakan layanan remitansi berbasis digital di cabang luar negeri BNI, salah satunya pada BNI MoRe di Singapura. Ke depannya, ia pun mengungkap BNI akan memperkuat partnership dengan global payment provider untuk memperluas market share.

Selain itu, Henry menerangkan bahwa KCLN BNI berkontribusi dalam pemberian kredit yang fokus pada Indonesia-related business. Ia menyebutkan, total kredit BNI tumbuh 3% yoy menjadi sebesar US$ 3,7 miliar pada kuartal ketiga 2021.

"Strategi kami dalam menggarap Indonesia-related business tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko, sehingga kualitas kredit di KCLN cukup sehat, seperti tercermin pada NPL kredit KCLN di kisaran 0,3%," tandasnya.



Simak Video "Year in Review 2021: Hingar Bingar UMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ara)