Orang RI Nggak Panik Lagi Piknik, Kredit Diramal Lebih Kencang

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 20 Jan 2022 17:59 WIB
Gerbang Pembayaran Nasional atau National Payment Gateway (NPG)
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo
Jakarta -

Penyaluran kredit tahun ini diramal bisa mencapai 7,5%. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan hal ini karena mobilitas masyarakat mulai longgar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan pada 2021 penyaluran kredit perbankan hanya tumbuh 5,2%. Dia optimis tahun 2022 ini masyarakat bisa kembali berbelanja.

"Jika mobilitas masyarakat mulai leluasa, maka ruang untuk belanja, piknik, menengok orang tua itu besar, sehingga bisa menimbulkan multiplier effect ke orang-orang untuk spending atau belanja," ujar dia dalam konferensi pers PTIJK di JCC, Kamis (20/1/2022).

Wimboh mengungkapkan hal itu juga bisa mendorong pemulihan kredit, karena banyaknya permintaan untuk penambahan modal.

Dia menjelaskan jika OJK optimis kinerja industri jasa keuangan pada tahun ini akan semakin membaik didorong stabilitas sektor keuangan yang terjaga, kebijakan pengawasan yang solid serta laju perekonomian yang mulai pulih dari dampak pandemi COVID-19.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Heru Kristiyana menambahkan, target pertumbuhan kredit tersebut masih masuk akal. Ia menjelaskan, target itu sejalan dengan rencana bisnis para perbankan.

"Target kredit 7,5% di 2022 saya kira sangat masuk akal. Saya juga yakin target 7,5% itu dapat tercapai di tahun ini dengan berbagai dorongan," jelas Heru.

Penyaluran kredit sampai Desember 2021, tercatat naik sebesar 5,2% (yoy) atau membaik dibanding Desember 2020 yang minus 2,41%. Sementara itu, risiko kredit masih terjaga di bawah 5% dengan NPL gross 3% atau membaik dibanding 2020 sebesar 3,06%.

Rendahnya NPL ini ditopang kebijakan restrukturisasi kredit yang telah diperpanjang hingga Maret 2023 dengan tetap menekankan prinsip kehati-hatian dalam penerapannya.

Hingga November 2021, nilai outstanding restrukturisasi kredit dalam tren melandai dengan nominal mencapai Rp 693,6 triliun yang sebelumnya sempat mencapai Rp 830,5 triliun. Jumlah debitur restrukturisasi juga menurun signifikan dari angka tertingginya 6,8 juta debitur, kini menjadi 4,2 juta debitur. Dari jumlah tersebut, telah dibentuk pencadangan sebesar 14,85% atau sekitar Rp 103 triliun untuk restrukturisasi COVID-19.

(kil/eds)