Asyik! Bunga Kredit Terus-terusan Turun Nih

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 20 Jan 2022 18:15 WIB
Suku Bunga Acuan Dipangkas, Suku Bunga Kredit Kapan?
Ilustrasi/Foto: detik
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat suku bunga kredit di perbankan nasional terus mengalami penurunan. Hal ini karena suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah dan likuiditas masih longgar.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan per Desember 2021 di pasar uang dan pasar dana, suku bunga PUAB overnight turun menjadi 2,78% dan suku bunga deposito 1 bulan menjadi 2,96%.

"Di pasar kredit, penurunan SBDK perbankan terus berlanjut, diikuti penurunan suku bunga kredit baru pada seluruh kelompok bank," kata Perry dalam konferensi pers, Kamis (20/1/2022).

Dari data analisis uang beredar BI periode November 2021 disebutkan jika rata-rata suku bunga kredit tercatat 9,25% turun 5 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Dia mengungkapkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang meningkat mendorong perbaikan persepsi risiko perbankan, sehingga berdampak positif bagi penurunan suku bunga kredit baru.

Namun demikian, penurunan suku bunga kredit yang jauh lebih lambat daripada penurunan suku bunga deposito perbankan menyebabkan spread antara suku bunga kredit dan deposito, serta Net Interest Margin (NIM) perbankan, terus mengalami peningkatan.

Oleh sebab itu, Bank Indonesia memandang peran perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan termasuk melalui penurunan suku bunga kredit dapat ditingkatkan guna semakin mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) perbankan November 2021 tetap tinggi sebesar 25,59%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan / NPL) tetap terjaga, yakni 3,19% (bruto) dan 0,98% (neto).

Intermediasi perbankan terus membaik dengan pertumbuhan kredit sebesar 5,24% (yoy) pada Desember 2021. Pertumbuhan kredit lebih merata pada semua jenis penggunaan, baik kredit modal kerja, kredit konsumsi maupun kredit investasi, yang masing-masing tumbuh 6,32% (yoy), 4,67% (yoy), dan 4,01% (yoy).

Menurut Perry, permintaan kredit dari sisi korporasi terindikasi semakin meningkat, sementara dari sisi penawaran perbankan menurunkan standar penyaluran kredit terutama pada sektor-sektor prioritas seiring dengan menurunnya persepsi risiko kredit. Pertumbuhan kredit UMKM juga meningkat signifikan didorong oleh meningkatnya permintaan sejalan dengan pemulihan aktivitas dunia usaha serta dukungan program Pemerintah.

Bank sentral terus menempuh kebijakan makroprudensial akomodatif, baik melanjutkan kebijakan akomodatif yang telah ada maupun perluasan kebijakan makroprudensial untuk mendorong sektor-sektor prioritas dan UMKM. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit pada 2022 pada kisaran 6%-8% dan pertumbuhan DPK pada kisaran 7%-9%.

(kil/eds)