Kinerja Perdagangan Luar Negeri Positif, BNI Gencarkan Bisnis Global

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Senin, 07 Mar 2022 19:58 WIB
Ilustrasi Gedung BNI
Foto: Dok. BNI
Jakarta -

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus mengupayakan ekspansi kinerja bisnis luar negeri seiring semakin kuatnya pemulihan ekonomi global. BNI berupaya meningkatkan ekspansi nasabah sekaligus optimalisasi kinerja layanan global banking di awal tahun 2022.

Direktur Treasury dan International BNI Henry Panjaitan menuturkan kinerja perdagangan luar negeri pada awal tahun ini masih tumbuh positif sehingga mendorong kinerja global banking BNI. Permintaan komoditas serta produk dari Indonesia kian meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi global. Impor dari luar negeri juga tumbuh positif seiring peningkatan produksi dan konsumsi di dalam negeri.

Henry menguraikan volume Trade Ekspor BNI tumbuh di kisaran 76,73% sedangkan volume perdagangan impor BNI di kisaran 120,41%. Akselerasi pertumbuhan kinerja tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan volume perdagangan nasional yang mencapai 41,88% untuk ekspor dan 38,59% untuk impor. Hal ini turut mendorong kenaikan pendapatan berbasis fee atau fee based income (FBI) perdagangan yang di tahun 2021 tumbuh sebesar 7,46% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

"Kami berharap torehan kinerja yang positif pada tahun lalu dapat tetap berlanjut tahun ini. Lagi pula tren perdagangan luar negeri di awal tahun ini masih sangat positif," ujar Henry dalam keterangan tertulis, Senin (7/3/2022).

Henry menuturkan upaya ekspansi nasabah tahun ini dilakukan dengan menggandeng banyak platform digital yang mempertemukan pelaku industri kreatif SME di Indonesia dan buyer dari luar negeri. Dalam kerja sama ini, BNI berharap lebih banyak lagi pelaku UMKM mendapat kesempatan untuk ekspor produknya ke luar negeri

"Tentunya kami telah memiliki banyak rencana kerja sama strategis yang akan kami jalan sepanjang tahun ini. Tidak hanya untuk meningkatkan kinerja transaksi, tetapi kami juga mencari peluang untuk pembiayaan termasuk diaspora Indonesia di luar negeri," papar Henry.

Sementara itu, terkait konflik Rusia-Ukraina, Henry menjelaskan BNI melihat dampak ekonomi yang ditimbulkan relatif minim terhadap perekonomian Indonesia. Pada tahun lalu, lanjutnya, ekspor Indonesia ke Rusia tercatat sebesar US$ 1,49 miliar atau hanya 0,65% dari total ekspor Indonesia. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Ukraina tercatat US$ 416,9 juta atau hanya 0,18% dari total ekspor.

Namun, Henry menegaskan BNI terus memperhatikan dampak konflik ini terhadap kenaikan harga minyak dunia, yang akhirnya berdampak pada kenaikan inflasi di Indonesia. Sebab, kondisi demikian berpotensi mempercepat peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia.

"Kendati demikian, kami berharap kenaikan harga komoditas ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kuat di dalam negeri. Kami pun berharap konflik akan segera berakhir, demi memberikan kepastian dalam berbisnis, dan menjadikan iklim berinvestasi semakin membaik, sehingga berdampak positif pada perekonomian," urai Henry.

"Hal ini tentunya akan berdampak baik bagi banyak sektor ekonomi di Indonesia yang saat ini tengah cukup baik melewati masa pemulihan ekonomi," imbuhnya.



Simak Video "Heboh Raffi Ahmad-Nagita Slavina Dapat Mesin ATM"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)